Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Program Genting Sasar 111 Ribu Balita di Lombok Timur

Supardi • Senin, 13 Juli 2026 | 12:48 WIB
Muksin
Muksin

LombokPost-Lombok Timur (Lotim) menjadi salah satu kabupaten dengan kasus stunting tertinggi di NTB dan masuk zona merah.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim akan menggencarkan program Orang Tua Atasi Stunting (Genting) dengan menyasar 111.047 balita.

DP3AKB juga akan memaksimalkan tugas dan peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) di tingkat kecamatan dan desa. “Program Genting ini akan kita gencarkan lagi untuk menindaklanjuti ketinggalan kita, agar kasus stunting kita tidak naik lagi,” terang Kepala Dinas P3AKB Lotim Muksin, Minggu (12/7).

Muksin mengatakan, data stunting Lotim menunjukkan angka berbeda. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGM) tahun ini, angka stunting Lotim mencapai 19,46 persen. Sementara berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2025, angkanya berada di posisi 27 persen.

Baca Juga: Stunting Zona Merah: Beasantri Jadi Solusi

Angka itu dinilai cukup tinggi sehingga Lotim masuk zona merah. Kondisi itu tidak terlepas dari luas wilayah dan jumlah penduduk yang mencapai 1,4 juta jiwa.

“Kami sudah rapat dengan semua jajaran untuk mencari benang merah permasalahan stunting ini, salah satunya dengan memaksimalkan program orang tua asuh ini,” katanya.

Ia mengakui progres gerakan orang tua asuh untuk intervensi stunting di Lotim masih rendah. Capaiannya baru 25 persen. Padahal, pada pertengahan tahun progres orang tua asuh seharusnya sudah mencapai 60 persen.

Baca Juga: Wabup Gandeng BUMN Lawan Stunting di Lombok Tengah

“Kami lihat di kabupaten lain seperti Sumbawa, Lombok Tengah progres orang tua asuh sudah 100 persen lebih,” katanya.

Muksin juga melihat ada miskomunikasi antara orang tua asuh dan TPK. Menurutnya, TPK belum mengawal program Genting secara maksimal.

Penanganan stunting kini menjadi salah satu program prioritas di Lotim. Bupati Lotim telah menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terlibat dalam penurunan stunting.

Baca Juga: Pemprov NTB Luncurkan Intervensi Serentak Penanganan Stunting, Kedepankan Pendekatan Intervensi Serentak dan Terintegrasi

Sejumlah komunitas juga melakukan intervensi. Di antaranya Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), organisasi nonpemerintah (NGO), dan pihak lain. Dengan keterlibatan berbagai pihak, angka stunting Lotim diyakini akan turun.

“Apalagi sekarang orang-orang yang ada di DP3AKB hingga di tingkat OPD orang-orang berpengalaman. Untuk itu kami optimistis ini akan turun,” jelasnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri menyebut Lotim dan Lombok Utara (KLU) masuk zona merah. Keduanya memiliki kasus stunting tertinggi di antara 10 kabupaten/kota di NTB.

Baca Juga: PKK NTB Terapkan Metode KAP-MAP untuk Percepat Penanganan Stunting di Lombok Timur

“Kalau Lotim tingginya kasus stunting ini memang erat kaitannya dengan jumlah penduduk yang cukup besar, jadi angka stunting dan kemiskinan memang masih cukup tinggi,” terangnya. 

 

Editor : Kimda Farida
#Anak #Lotim #DP3AKB #Balita #Stunting