LombokPost-Penyebaran siswa baru dalam Sistem Penerimaan Siswa Baru (SPMB) 2026 diklaim belum merata di Lombok Timur (Lotim).
Kondisi itu terlihat dari masih adanya sekolah yang kekurangan siswa, sementara sekolah lain kelebihan siswa.
“Bisa kita katakan penyebarannya belum merata. Karena ada sekolah yang banyak sekali siswa dan rombelnya (rombongan belajar, Red). Ada juga sekolah yang kekurangan peminat dan rombelnya,” terang Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim Lalu Bayan Purwadi, Senin (20/7).
Menurut dia, penyebaran siswa baru belum merata karena orang tua masih memilih sekolah tempat mereka pernah menempuh pendidikan.
Orang tua juga cenderung memilih sekolah berprestasi.
Baca Juga: Modus Pindah KK Picu Ketimpangan SPMB, Disdik Mataram Siapkan Opsi 'Merger' Sekolah Sepi Peminat
Jarak turut memengaruhi penerimaan siswa baru. Sekolah di daerah pinggiran masih banyak yang kekurangan siswa baru.
“Jumlah siswa baru pada SPMB tahun ini tingkat SD hingga SMP tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya, datanya sekitar 117 ribu orang,” katanya.
Bayan menegaskan, belum ada sekolah yang akan ditutup meski penyebaran siswa baru belum merata. Pada 2025, Dikbud Lotim menutup empat sekolah karena kekurangan siswa.
Dikbud Lotim akan berkoordinasi terkait sekolah yang kelebihan siswa.
Para siswa akan diarahkan ke sekolah terdekat yang masih kekurangan siswa agar penyebarannya lebih merata.
Baca Juga: Padahal Akreditasi A, SDN 12 Mataram Cuma Dapat 6 Murid Baru di SPMB 2026! Ada Apa?
“Sebenarnya sekolah itu sama saja favorit dan berprestasi. Semua sekolah mencetak anak untuk berprestasi. Tapi kadang yang menjadi persoalan adalah sarana dan prasarana mereka saja. Itu yang mungkin perlu diperhatikan,” tutupnya.
Sebelumnya, Kepala Dikbud Lotim M Nurul Wathoni menyampaikan, sekolah yang masih kurang diminati untuk berbenah dan meningkatkan kualitas.
Terutama sekolah di pedesaan yang kerap menerima siswa baru dalam jumlah sangat sedikit. Sekolah di desa juga bersaing dengan pondok pesantren untuk menarik peserta didik.
“Terkait sekolah dengan jumlah siswa yang sangat minim, kita akan melakukan evaluasi. Tahun sebelumnya bahkan ada sekolah yang ditutup lantaran jumlah siswa yang terlalu sedikit. Ini yang akan menjadi bahan evaluasi,” katanya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post