SELONG-Kondisi SMP Satap 4 Jerowaru di Dusun Seriwe, Desa Seriwe, cukup memprihatinkan. Sebagian atap sekolah dan plafon berjatuhan akibat diterjang angin.
“Yang rusak bagian atapnya saja dan tembus ke plafon. Kalau temboknya masih bagus,” terang Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMP Satap 4 Jerowaru Afipudin Adnan saat ditemui Lombok Post di ruangannya, Jumat (24/7).
Dari empat ruangan yang ada, rata-rata kondisi atapnya sudah rusak dan berjatuhan. Kerusakan itu mengakibatkan ruangan bocor dan air hujan masuk sehingga mengganggu proses belajar mengajar.
Baca Juga: Rumah, Sekolah, dan Gereja Rusak, Picu Tsunami Kecil Pasca Gempa Filipina M7,8
Kondisi itu berlangsung sejak tiga tahun lalu. Secara usia, sekolah ini tergolong masih muda karena dibangun pada 2013 oleh pemerintah Australia. Namun, lokasi sekolah berada di dekat pantai dengan cuaca cukup panas dan angin kencang. Kondisi itu membuat atap mudah berkarat dan rusak.
“Karena angin di pinggir pantai cukup besar dan panas juga, sehingga atapnya diterbangkan angin. Apalagi kan atapnya dari spandek. Yang rusak ini tiga ruang kelas satu ruang guru,” katanya.
Menurut dia, pihak sekolah telah mengajukan perbaikan melalui dana revitalisasi 2026. Namun, hingga saat ini belum ada informasi terkait tindak lanjut usulan itu.
Baca Juga: Bupati Lotim Laporkan Kondisi Sekolah Rusak ke Menteri Pendidikan
Pihak sekolah berharap perbaikan segera dilakukan. Kerusakan dikhawatirkan semakin parah dan merembet ke bagian bangunan lain akibat atap bocor. Kondisi itu juga dapat membahayakan siswa.
“Jika tidak segera ditangani maka nanti akan semakin parah. Mumpung temboknya masih bagus juga. Kalau hujan kelas akan becek, bangku dan meja siswa basah. Anak-anak jadi tidak fokus belajar,” katanya.
Ia menambahkan, jumlah siswa saat ini mencapai 55 orang. Ruang kelas yang tersedia masih mampu menampung seluruh siswa. Karena itu, ia berharap sekolah cukup direnovasi tanpa menambah bangunan baru.
Baca Juga: Pemkab Lotim Kolaborasi dengan NGO Bangun Sekolah Rusak
Sementara itu, siswi SMP Satap 4 Jerowaru Dela Afrilia mengatakan, ruang kelas kebanjiran setiap hujan. Meja, bangku, dan tas mereka juga sering basah. Bahkan, ruang kelas berubah seperti kolam saat hujan deras.
“Ini (lantai) akan penuh dengan air, kayak kolam. Terus kalau airnya sudah dikeluarkan, lantai akan kotor dan becek. Sehingga sangat mengganggu kami belajar,” tutupnya. (par/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post