Lombokpost-Biji jambu mete dibelah dan dibersihkan satu per satu di Sekretariat KWT Bangkit Bersama Desa Sugian. Pekerjaan yang terlihat sederhana itu kini menjadi sumber penghasilan sekaligus membuka pasar hingga ke luar negeri.
Puluhan produk siap jual terpajang di etalase kios sederhana. Ada keripik pisang, keripik singkong, madu, dan kopi. Namun, produk yang paling mencolok adalah kacang mete Sugian.
Produk itu dibuat para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Bangkit Bersama Desa Sugian, Kecamatan Sambelia. Jambu mete yang dahulu terbuang kini menjadi sumber penghasilan. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar internasional.
Baca Juga: Bikin Geger, Warga Pengantap, Desa Buwun Mas Ditemukan Tergantung di Pohon Jambu Mete
Ketua KWT Bangkit Bersama Desa Sugian Hadiatun menceritakan awal pembuatan kacang mete Sugian. Ide itu muncul setelah melihat banyak jambu mete terbuang sia-sia di Kecamatan Sambelia karena tidak diolah.
Ia kemudian meminta salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) memberikan pendampingan. Tujuannya meningkatkan nilai jual jambu mete.
“Akhirnya LSM itu bekerja sama dengan Konsepsi memenuhi permintaan kami untuk memberikan pelatihan dan pengolahan kacang mete,” terang Hadiatun kepada Lombok Post saat ditemui di Sekretariat KWT Bangkit Bersama Sugian, Minggu (26/7).
Baca Juga: Kebun Jambu Jadi Tempat Wisata, Tawarkan Omzet Menggiurkan
Pada awal produksi, belum banyak masyarakat mengenal camilan kacang mete itu. Pemasarannya pun cukup sulit. Namun, mereka tidak menyerah.
KWT terus memperkenalkan produk kacang mete kepada masyarakat. Promosi dilakukan secara langsung maupun melalui media sosial hingga produknya dikenal luas.
KWT Bangkit Bersama berdiri sejak 2016 dengan 10 anggota. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Mulai dari membelah biji mete, memproduksi, hingga mengemas produk.
Baca Juga: Semarak Harkopnas ke-79, Disperinkop Mataram Rancang Spot UMKM
“Sekarang produk kami sejak berdiri pemasarannya sudah lumayan bagus baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional,” katanya.
Produk yang dihasilkan meliputi kacang mete dengan berbagai varian rasa. Mereka juga memproduksi keripik pisang Sugian, keripik singkong Sugian, madu asli Sugian, dan produk lainnya.
Semua produk KWT telah dilengkapi legalitas. Mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), halal, hingga dinyatakan lolos pemeriksaan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM). Legalitas itu membuka akses pemasaran produk ke berbagai daerah hingga pasar internasional.
“Khusus produk mete Sugian dan keripik pisang Sugian sudah mampu dipasarkan sampai Malaysia di bagian Johor Baru. Kalau yang keluar NTB, yang rutin ke Bali dan Jakarta dan kita sudah memiliki reseller,” katanya.
Pemasaran sejauh ini berjalan lancar. Namun, KWT masih membutuhkan pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia, terutama pada bagian pemasaran.
Semua produk yang dibuat cukup laku di pasaran dan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Hadiatun berharap jangkauan pemasaran terus meluas sehingga dapat mendongkrak ekonomi masyarakat, terutama ibu rumah tangga.
“Untuk mendapatkan bahan baku kacang mete, kita bekerja sama dengan petani di Kecamatan Sambelia dan di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kita membangun mitra yang sangat bagus dengan petani,” katanya.
Harga bahan baku saat ini dinilai cukup tinggi, yakni Rp 25 ribu per kilogram. Harganya diperkirakan terus naik hingga Rp 30 ribu per kilogram. Harga itu menjadi yang paling mahal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, harga bahan baku hanya berkisar Rp 15 ribu per kilogram.
Dalam sekali produksi, mereka membutuhkan dua hingga tiga kuintal biji mete. Bahan baku itu menghasilkan 100 bungkus produk mete. Namun, keterbatasan alat dan modal membuat KWT belum mampu berproduksi dalam jumlah besar.
“Permintaan ke Malaysia itu 500 pieces (bungkus, Red). Tapi sejauh ini kita baru dua kali kirim karena produksi belum bisa produksi banyak. Kalau pemasaran di dalam daerah masih aman, seperti di beberapa pusat oleh-oleh di Mataram dan Lombok Barat. Sejauh ini produk kami sudah masuk ke 22 ritel modern,” katanya. (*/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post