LombokPost-Puluhan stan berjejer di lapangan Kampus Universitas Hamzanwadi Pancor. Makanan, kerajinan, dan beragam inovasi karya mahasiswa dipamerkan. Di antara puluhan produk itu, First POC menarik perhatian. Pupuk organik cair itu dibuat dari limbah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Stan-stan itu bukan lapak produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada car free day (CFD) maupun bazar. Puluhan stan itu menjadi bagian dari Grand Launching Day Program Kewirausahaan Berbasis Proyek yang diselenggarakan Pusat Inovasi dan Inkubasi Bisnis Universitas Hamzanwadi.
First POC dikembangkan Muh Isnain, Muh Fathurrizki, Sofwanul Hakim, dan M Pratama Alva Sahrurrezal. Mereka merupakan mahasiswa semester IV Program Studi Teknik Lingkungan dan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Hamzanwadi.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Kapolres Lotim Silaturahmi Dengan Pengurus Yayasan Hamzanwadi NWDI Pancor
Ketua Tim Muh Isnaini mengatakan, First POC memanfaatkan limbah organik dari dapur MBG. Bahan yang digunakan meliputi sisa buah-buahan, sayuran, cangkang telur, hingga air bekas cucian beras.
“Seluruh bahan difermentasi menggunakan cairan EM4 sehingga menghasilkan pupuk organik cair yang dapat meningkatkan kesuburan tanaman sekaligus mengurangi volume sampah organik,” terang Isnaini, Selasa (28/7).
Inovasi itu lahir dari keprihatinan mereka terhadap peningkatan produksi limbah organik akibat masifnya pelaksanaan Program MBG di Lombok Timur (Lotim). Terlebih, jumlah dapur MBG di Lotim cukup banyak.
Baca Juga: Menteri KKP Siap Bantu Kelola Limbah dan Perluas Pusat Kuliner di Ampenan
Melalui inovasi itu, mereka ingin menghadirkan solusi sederhana. Limbah dapur dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai di masyarakat. Produk itu juga diharapkan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pupuk kimia.
“Selain mengurangi pencemaran lingkungan, POC ini juga kami harapkan mampu mendukung sektor pertanian melalui penyediaan pupuk organik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pupuk kimia,” jelasnya.
Dosen mentor tim LM Samsu mengatakan, inovasi mahasiswa itu menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam melahirkan solusi atas berbagai persoalan pembangunan.
Baca Juga: PKM Universitas Hamzanwadi Perkuat Ekosistem Songket Pringgasela
“Mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
First POC dinilai memiliki peluang dikembangkan menjadi usaha berskala makro. Bahan bakunya mudah diperoleh. Proses produksinya sederhana dan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Inovasi itu memberikan solusi terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Pada saat bersamaan, produk itu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Universitas Hamzanwadi Rampungkan Pengabdian, Tinggalkan Program Berkelanjutan
Namun, pengembangan produk masih menghadapi tantangan. Pihaknya menemukan sebagian besar petani masih bergantung pada penggunaan pupuk kimia. Karena itu, diperlukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat semakin percaya terhadap efektivitas pupuk organik cair.
“POC ini memiliki keunggulan karena seluruh bahan bakunya mudah ditemukan di lingkungan sekitar, biaya produksinya relatif rendah, serta dapat diproduksi secara rutin setiap minggu,” katanya.
Menurutnya, produk itu diharapkan dapat dikembangkan sebagai usaha mikro berbasis lingkungan. Produk itu dapat diterapkan oleh kelompok masyarakat maupun pelaku UMKM.
“Melalui pendekatan kewirausahaan berbasis proyek, mahasiswa didorong menciptakan produk inovatif yang mampu menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan, mulai dari pengelolaan limbah, penguatan ketahanan pangan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
First POC diharapkan dapat dikembangkan sebagai model pengelolaan limbah organik pada dapur-dapur Program MBG di berbagai daerah. Dengan begitu, program itu tidak hanya berkontribusi meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Program itu juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi sirkular yang mendukung pelestarian lingkungan dan pembangunan pertanian berkelanjutan. (*/r7)
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post