LombokPost-SDN 1 Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela, menjadi salah satu dari puluhan sekolah dasar di Lombok Timur (Lotim) yang kekurangan ruang belajar. Kondisi itu memaksa sekolah meminjam musala warga agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Teeet... Bel tanda pelajaran berakhir siang itu berbunyi. Suara anak-anak langsung riuh dari dalam ruang kelas berdinding kalsiboard.
Tak berselang lama, puluhan siswa berlarian keluar kelas. Mereka kemudian berebut bersalaman dengan guru yang telah menunggu di depan pintu.Pemandangan berbeda terlihat di samping sekolah. Puluhan siswa berlarian keluar dari musala di tengah permukiman warga.
Mereka merupakan siswa kelas II SDN 1 Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela. Para siswa terpaksa menumpang belajar di musala warga karena sekolah kekurangan ruang kelas.
Baca Juga: Rumah, Sekolah, dan Gereja Rusak, Picu Tsunami Kecil Pasca Gempa Filipina M7,8
Kepala SDN 1 Jurit Baru Marlin mengatakan, sekolah memiliki 267 siswa. Mereka terbagi dalam 11 rombongan belajar (rombel). Namun, jumlah siswa tidak sebanding dengan ruang kelas yang tersedia. Sekolah hanya memiliki enam ruang kelas.
“Sejak tahun 2017 kita kekurangan kelas di sini. Jumlah kelas hanya enam kelas, sehingga kami kekurangan lima kelas lagi,” terang Marlin kepada Lombok Post saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/8).
Sekolah berupaya menyiasati kekurangan itu dengan membangun dua ruang kelas sementara. Dinding ruang kelas itu terbuat dari kalsiboard. Pembangunannya menggunakan dana swadaya masyarakat serta iuran guru. Langkah itu ditempuh agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Baca Juga: Bupati Lotim Laporkan Kondisi Sekolah Rusak ke Menteri Pendidikan
Sekolah juga mengubah ruang perpustakaan menjadi ruang kelas. Namun, penggunaannya cukup mengganggu kegiatan membaca karena harus berbenturan dengan jadwal belajar.
“Seharusnya ruang perpustakaan tidak kita pakai sebagai kelas. Tapi karena tidak ada kelas, terpaksa anak-anak yang membaca kita jadwalkan,” jelasnya.
Upaya itu belum mampu memenuhi kebutuhan ruang belajar. Sekolah kemudian meminjam musala milik warga yang lokasinya tidak jauh dari sekolah. Musala itu digunakan sebagai ruang belajar siswa kelas II. Namun, keterbatasan ruang membuat sekolah tetap harus menerapkan sistem sif.
Baca Juga: Pemkab Lotim Kolaborasi dengan NGO Bangun Sekolah Rusak
Siswa kelas II A belajar mulai pukul 07.00 hingga 11.00 Wita. Sementara siswa kelas II B masuk pukul 11.00 hingga 12.30 Wita.
“Di sana (musala) kita belajar dua kelas, tapi yang dua kelas itu bergiliran. Keluar yang satu kelas, masuk kelas yang lain. Sistem ini memang membuat jam belajar anak menjadi sedikit berkurang,” katanya.
Namun, dua ruang kelas sementara itu tidak seluas ruang kelas pada umumnya. Para siswa juga harus belajar tanpa meja dan bangku.
“Dua kelas sementara itu, anak-anak belajar di bawah berlapis karpet. Karena tidak ada bangku dan mejanya. Pun dengan di musala, mereka duduk di bawah,” jelasnya.
Baca Juga: Dikbud Lombok Timur Kembali Usulkan Sekolah Rusak Dari Dana Revitalisasi
Marlin mengatakan, sekolah sebelumnya telah mengusulkan pembangunan ruang kelas baru (RKB) kepada Pemkab Lotim melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim. Namun, usulan itu belum terealisasi karena lahan sekolah dinilai tidak mencukupi.
Sekolah kemudian berkoordinasi dengan warga sekitar. Warga telah memberikan izin penggunaan lahan untuk pembangunan ruang kelas baru. Dengan demikian, persoalan lahan saat ini dinilai sudah tidak menjadi kendala.
“Sudah kita minta sama masyarakat bersama Pak Kadus. Kami sudah diizinkan. Kalau kita dapat nanti bantuan, kita bisa bangun kelas baru,” katanya.
Baca Juga: Di Hadapan Mendikdasmen, Wabup Sumbawa Keluhkan Gedung Sekolah Rusak dan Penempatan Guru PPPK
Guru SDN 1 Jurit Baru Lalu Azhar menambahkan, sekolah tidak hanya kekurangan ruang kelas. Kondisi sejumlah bangunan juga cukup memprihatinkan.
Sebagian tembok sekolah retak di sejumlah bagian. Fasilitas lain, seperti meja dan bangku siswa, juga banyak yang rusak.
“Tahun ini kami sudah ajukan juga revitalisasi pusat. Mudah-mudahan kita bisa dapat. Karena kondisi ruangan sekolah kita yang ada juga sudah retak, tapi ditambal sama Pak Kepala Sekolah sedikit demi sedikit,” terangnya. (*/r7)
Editor : Prihadi Zoldic
Sumber : Lombok Post