LombokPost-Alat dan mesin pertanian setiap hari terus mengalami perkembangan cukup signifikan. Terbaru, sebuah oven tembakau listrik tengah diuji coba di salah satu kelompok tani di Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur (Lotim). Keberadaan oven tembakau ini dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus membuat proses produksi lebih efektif.
SEBUAH bangunan mirip boks kontainer berdiri di tengah persawahan yang dikelilingi tanaman tembakau siap panen. Bangunannya tidak terlalu besar. Namun, keberadaannya dalam beberapa hari terakhir cukup menyedot perhatian masyarakat, terutama para petani tembakau.
Bangunan dengan ketinggian sekitar 3-4 meter itu merupakan oven tembakau listrik. Oven ini menjadi yang pertama di Lombok, bahkan di Indonesia. Produk ini dikembangkan perusahaan asal China dan saat ini masih dalam tahap uji coba.
Baca Juga: DBHCHT Rp 32 Miliar Difokuskan Dukung Produktivitas Petani Tembakau NTB
Ketua Kelompok Tani Lingsir Bajang Empat Dusun Pengongsor, Desa Rarang, Kecamatan Terara Mansur menyampaikan, keberadaan oven listrik ini cukup memudahkan proses produksi. Oven juga mampu menekan biaya produksi dibandingkan menggunakan oven tembakau manual.
“Hasil produksinya cukup bagus. Matangnya merata, tidak ada daun tembakau yang masih mentah seperti yang biasa kita temukan di oven biasa,” beber Mansur kepada Lombok Post, Minggu (23/8).
Kapasitas oven ini masih terbatas. Hanya mampu menampung 2,5 hingga 3 ton tembakau dengan jumlah 150 gelantang atau tembakau yang diikat pada bambu berukuran 1,5 meter. Sementara oven manual mampu menampung 4 hingga 5 ton dalam sekali produksi.
Baca Juga: Pusat Gelontorkan DBHCHT Rp 312 Milyar, DPRD NTB Dorong Berpihak ke Petani Tembakau
Namun, keberadaan oven listrik ini mampu memangkas biaya operasional sekaligus membuat pekerjaan pengovenan tembakau lebih efektif. Misalnya pada proses gelantang. Oven ini sudah memiliki gelantang khusus yang cukup praktis sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.
“Sekarang ongkos gelantang saja Rp 5.000 per tiga gelantang. Kalau oven listrik ini bisa kita gelantang sendiri di sawah langsung. Sehingga tembakau yang dibawa pulang yang sudah siap dimasukkan ke oven,” katanya.
Oven ini juga tidak membutuhkan tenaga kerja untuk menunggu api seperti pada oven biasa. Tenaga kerja itu biasanya dikontrak dengan gaji hingga Rp 6 juta per musim tembakau. Sebab, oven listrik dioperasikan dan dikontrol melalui aplikasi di HP android dari jarak jauh.
Baca Juga: Pemkab Lotim Dorong Hirilisasi Tembakau
Suhu panas oven juga sudah otomatis. Tingkat panas akan menyesuaikan dengan kondisi daun dan kebutuhan tembakau. Bahkan, saat tembakau sudah matang, oven bisa mati sendiri secara otomatis.
“Oven ini juga sudah dilengkapi dengan mesin pendingin. Sehingga begitu tembakau matang. Secara otomatis pendingin langsung hidup. Sehingga proses pendingin dan proses penurunan tembakau yang sudah matang lebih cepat,” katanya.
Oven tembakau listrik ini juga dinilai jauh lebih aman dibandingkan oven biasa. Alat yang ada bahkan mampu mendeteksi bahaya atau gangguan. Jika terdeteksi masalah, mesin akan mati secara otomatis sehingga risiko kebakaran dapat diminimalkan.
Baca Juga: Disapu Puting Beliung, Rumah dan Oven Tembakau di Desa Ganti Loteng Roboh
Untuk pembelian token listrik, sekali produksi membutuhkan biaya sekitar Rp 900 ribu. Biaya ini dinilai lebih murah dibandingkan oven biasa yang menggunakan kayu bakar. Sekali produksi membutuhkan biaya Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
“Kalau oven biasa biasanya kita beli satu truk kayu dengan harga Rp 2 juta hingga 3 juta. Itu hanya bisa kita gunakan sekali produksi,” jelasnya.
Keunggulan oven ini juga terlihat pada hasil produksi. Selain matang merata, kualitas tembakau yang dihasilkan dinilai sangat bagus. Warnanya lebih kuning merata, lebih bersih, dan aromanya lebih wangi.
Baca Juga: Distan Lotim Minta Petani Perkuat Mitigasi Tembakau
Meski baru menjalani uji coba pertama, Mansur berharap oven ini bisa dikembangkan di Lotim sebagai solusi produksi tembakau. Teknologi ini tidak hanya membuat pekerjaan lebih mudah dan menekan biaya produksi, tetapi juga dinilai dapat menjaga lingkungan dari penebangan pohon yang selama ini cukup masif setiap musim tembakau.
“Kalau ini tidak ada asap keluar. Yang paling membuat kami kagum itu adalah hasilnya sangat bagus, kuningnya merata dan lebih bersih,” ujarnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post