Bahasa Sasak Mulai Jarang Digunakan Anak-anak

Supardi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 08:05 WIB
BUKA FTBI : Kepala UPT Dikbud Kecamatan Selong membuka Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Kecamatan Selong, ditandai dengan pemukulan gong.
BUKA FTBI : Kepala UPT Dikbud Kecamatan Selong membuka Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Kecamatan Selong, ditandai dengan pemukulan gong. 

LombokPost-Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Selong menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang SD dan SMP untuk memperkuat kecintaan peserta didik terhadap bahasa Sasak. Kegiatan itu juga menjadi upaya menjaga penggunaan bahasa daerah yang dinilai mulai berkurang, terutama di wilayah perkotaan.

“Ini program rutin Dikbud Lotim dalam rangka meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap bahasa daerah, menjaga bahasa daerah agar tidak hilang,” terang Kepala UPT Dikbud Kecamatan Selong Muhammad Safi’i, Minggu (6/9).

Kata dia, penggunaan bahasa daerah saat ini mulai berkurang di tengah masyarakat. Salah satunya disebabkan masyarakat lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga.

Baca Juga: Ardilla, Siswa SMPN 16 Mataram Juara II FTBI NTB Cabang Baca Puisi

Karena itu, kegiatan ini diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas, namun juga dapat menggali tunas-tunas baru yang mencintai bahasa daerah. Adapun kegiatan ini menghadirkan berbagai mata lomba, seperti pidato menggunakan bahasa Sasak, puisi, begolohan atau stand up comedy bahasa Sasak, cerita pontek (cerpen), nembang, dan lainnya.

“Kami berharap para peserta yang mengikuti FTBI dapat menjadi duta yang ikut melestarikan bahasa Sasak,” ujarnya.

Pelestarian bahasa daerah dinilai penting dilakukan, terutama di tengah perkembangan zaman saat ini, tanpa mengesampingkan penggunaan bahasa Indonesia maupun penguasaan bahasa asing.

Baca Juga: Rawat Identitas Generasi Muda, Dikbud Lombok Barat Sukses Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu 2026

Penggunaan bahasa daerah di sekolah-sekolah yang ada di Kecamatan Selong dinilai sangat minim. Kendati demikian, beberapa sekolah telah memasukkan bahasa daerah sebagai pelajaran muatan lokal (mulok) untuk menjaga bahasa Sasak.

“Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing. Kita berharap literasi ini terus tumbuh dan berkembang di kalangan peserta didik,” katanya.

Keluarga juga disebut memiliki peran penting dalam menjaga bahasa ibu. Sebab, penggunaan bahasa Indonesia yang semakin dominan di lingkungan keluarga dikhawatirkan membuat generasi muda semakin jauh dari bahasa daerahnya.

Baca Juga: OBA ke-9 NTB Diikuti 116 Siswa, Bahasa Arab Diperkuat di Era AI

“Jangan sampai kita lupa terhadap bahasa daerah sendiri. Tetap lestarikan apalagi sampai dilupakan, karena itu adalah bahasa ibu,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pembina Ketenagaan Dikbud Lotim Lalu Rudi Oki Saputra menambahkan, FTBI merupakan kegiatan yang terus digalakkan Dikbud Lotim setiap tahun sebagai upaya mengembangkan literasi dan kecintaan siswa terhadap bahasa serta budaya daerah.

“Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan melalui lomba yang berkaitan dengan bahasa daerah,” katanya.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
FTBI bahasa bahasa ibu Bahasa sasak Lotim