LombokPost-SDN 4 Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, memilih cara lain untuk meresmikan gedung baru. Peresmian bukan hanya dilakukan dengan membuat acara seremonial, tetapi dipadukan dengan kegiatan budaya, yakni parade dulang tembolak beak. Selain sebagai bentuk rasa syukur, kegiatan ini juga untuk menghidupkan kembali tradisi Bedulangan di tengah masyarakat.
Ratusan perempuan berseragam putih dan bendang (sarung) memadati jalan Desa Lendang Nangka pagi menjelang siang itu. Mereka membawa dulang yang ditutup dengan tembolak beak (tudung saji merah) berisi beragam makanan.
Ratusan dulang itu bukan dibawa ke pesta perkawinan, acara roah, maulid, atau kegiatan peringatan hari besar Islam (PHBI) lainnya. Namun, dulang yang dibawa wali murid SDN 4 Lendang Nangka itu digunakan untuk menyambut empat ruang kelas baru (RKB) yang dibangun donatur asal Australia.
Baca Juga: Empat Kelas Baru Berdiri di SDN 4 Wakan Dibangun Classroom of Hope-Happy Heart
Guru SDN 4 Lendang Nangka Ahmad Husni menyampaikan, parade dulang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas pembangunan ruang kelas baru oleh Classroom of Hope dan Happy Hearts Indonesia. Empat ruang kelas di sekolah itu sudah tidak layak digunakan.
“Empat kelas kami kondisinya sudah rusak parah. Plafonnya berjatuhan sehingga kami khawatir akan menimpa anak-anak,” terang Ahmad Husni, Selasa (15/9).
Bantuan yang diberikan para donatur tidak hanya berupa pembangunan kelas baru, tetapi juga fasilitas lain seperti meja, bangku, kipas angin, dan sejumlah fasilitas pendukung pendidikan lainnya.
Baca Juga: Dikbud Lotim Gandeng Happy Heart Bantu Revitalisasi Sekolah di Lotim
“Alhamdulillah lengkap fasilitas yang diberikan tidak hanya bangunan kelas saja. Sehingga kami sangat bersyukur sekali dengan bantuan ini, akhirnya anak-anak bisa belajar dengan aman dan nyaman,” katanya.
Husni menjelaskan, selain sebagai bentuk rasa syukur atas bantuan itu, parade dulang digelar untuk menghidupkan kembali tradisi Bedulangan. Bedulangan adalah tradisi makan bersama dengan menghidangkan makanan menggunakan nampan yang ditutup dengan tembolak beak (tudung saji merah).
Tradisi ini disebut sudah jarang ditemukan di masyarakat sekitar. Karena itu, melalui momentum ini, pihak sekolah ingin menghidupkan dan memperkenalkan kembali tradisi itu kepada siswa-siswi.
Baca Juga: Dandim 1615/Lotim Kunjungi Lapas Kelas II B Selong
“Kami ingin anak-anak mengenal kembali budaya orang terdahulu, supaya tidak hilang, karena di masyarakat sekarang sudah jarang dilakukan,” katanya.
Dia menuturkan, sebelumnya masyarakat Lendang Nangka sangat akrab dengan dulang dan tembolak. Dalam setiap acara PHBI dan acara adat, makanan selalu disajikan menggunakan dulang. Namun, kebiasaan itu saat ini sudah jarang ditemukan seiring munculnya wadah makanan modern yang lebih praktis, seperti kemasan plastik, kotak, dan lainnya.
Karena itu, melalui momentum ini, pihaknya ingin memperkenalkan dan mengangkat kembali tradisi itu. Pihaknya mengaku sempat khawatir tidak banyak wali murid yang bisa mengikuti kegiatan itu.
“Kami sempat ragu kalau tidak ada yang mau untuk melakukan itu. Tapi respons dari masyarakat sangat bagus. Sekitar 140 dulang lebih terkumpul. Para wali murid, masyarakat sekitar, hingga alumni ikut menyiapkan hidangan secara sukarela,” katanya.
Antusiasme masyarakat tidak hanya terlihat saat menyiapkan makanan di dalam dulang. Para wali murid juga berusaha mencari tembolak beak agar sesuai dengan tradisi sebelumnya, mengingat tidak semua keluarga masih memiliki peralatan seperti tembolak beak di rumah masing-masing saat ini.
Kata dia, hal itu bukan hanya untuk memperindah wadah makanan, tetapi juga menandakan tradisi lama masih memiliki tempat di tengah masyarakat sekaligus menunjukkan kekompakan masyarakat yang masih terjaga.
“Kami terharu melihat para wali murid berusaha menemukan kembali perlengkapan yang dahulu akrab dalam kehidupan mereka, yang sekarang sudah mulai jarang dimiliki,” bebernya.
Peresmian ruang kelas baru itu bukan hanya tentang hadirnya bangunan untuk menunjang kegiatan belajar yang lebih layak. Momentum ini juga mempertemukan sekolah, masyarakat, dan donatur melalui tradisi yang hampir terlupakan.
“Kami berharap antusiasme masyarakat ini tidak berhenti pada acara ini. Tapi tradisi ini terus bisa dilakukan. Tradisi Bedulangan tembolak beak tetap hadir dalam berbagai kegiatan sekolah dan perayaan lainnya di tengah masyarakat,” tutupnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Lombok Post