Menikmati Keindahan Alam Loang Gali Lombok Timur

Supardi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 08:48 WIB
LOANG GALI: Sejumlah wisatawan sedang menikmati aliran sungai wisata alam Loang gali saat cuaca panas.
LOANG GALI: Sejumlah wisatawan sedang menikmati aliran sungai wisata alam Loang gali saat cuaca panas.

LombokPost-Wisata alam Loang Gali, satu dari puluhan wisata alam sungai yang dilengkapi dengan kolam alam di Lombok Timur.

Namun siapa sangka, tempat ini dulu merupakan hutan belantara yang dipenuhi berbagai satwa dan kini menjadi salah satu wisata yang tidak pernah sepi.

Tak jauh dari Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Lombok Timur (Lotim), suara aliran sungai mengalir pelan dari balik pepohonan besar dan rindang itu. Membuat hawa sekitarnya terasa sangat sejuk dan dingin.

Sementara di setiap sudut sungai, terlihat para pengunjung tengah duduk berendam menikmati aliran air sungai yang jernih dan segar dari wisata Loang Gali, Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek.

Baca Juga: Bupati Lotim Cek Jalan Rusak di Lenek

Ketua Pengelola Wisata Loang Gali Leong Gara menceritakan, wisata alam Loang Gali sebelumnya merupakan sebuah hutan belantara yang ditumbuhi pohon-pohon besar.

Berbagai satwa juga masih mudah ditemukan, seperti babi hutan. Sehingga nama Loang Gali sendiri diambil dari kata kuang (lubang) bawi.

“Dulu masyarakat mengenal kawasan ini dengan nama Kuang Bawi. Karena di sini memang banyak babi hutan. Tapi masyarakat memelesetkannya menjadi Loang Gali,” terang Leong Gara, Minggu (27/9).

Penggunaan kata Loang Gali juga dinilai lebih halus daripada menggunakan kata Kuang Bawi. Sehingga masyarakat memutuskan untuk memilih menggunakan nama Loang Gali sampai hari ini.

Baca Juga: Perbaikan Jalan dan Wisata Mangrove di Sekotong Tengah Tertunda

Wisata alam ini mulai dibuka pada awal tahun 2004 lalu oleh masyarakat Lenek dan sekitarnya secara gotong royong.

Masyarakat berjibaku menata aliran sungai agar lebih tertata dan menarik untuk wisatawan.

“Awal dibuat belum ada kolam renangnya, masih sebatas wisata alam dan sungai saja,” jelasnya.

Dengan semangat gotong royong dari masyarakat sekitar, kawasan itu terus dikembangkan secara perlahan-lahan dengan konsep yang lebih modern hingga destinasi itu mulai dilirik oleh wisatawan.

Baca Juga: Mahasiswa KKN UNRAM Dorong Pertanian Berkelanjutan di Desa Lenek Daya Melalui Sosialisasi Pupuk Organik dan Pestisida Nabati

Melihat perkembangan wisata, pengelola akhirnya mengajukan pembangunan kolam renang pada 2016 dan mendapatkan anggaran pada tahun 2017. Namun setelah pembangunan itu, wisata ini sempat terhenti lantaran dilanda gempa bumi dan Covid-19.

“Karena ada gempa bumi tahun 2018 kemudian disusul Covid-19 jadi kita mulai beroperasinya tahun 2021 setelah Covid,” ujarnya.

Sejak tahun 2021 itu, kawasan ini mulai bangkit dan banyak dikunjungi masyarakat. Terlebih fasilitas di wisata ini tergolong lengkap. Mulai dari kolam renang, kamar bilas, gazebo istirahat, areal camping, toilet, dan fasilitas pendukung lainnya. Total lahan di kawasan itu sekitar 2,46 hektare.

Baca Juga: Mengunjungi Embulan Cafe di Tengah Sejuknya Hawa Lenek Hadir sebagai Ruang Pemberdayaan dan Ekonomi Pemuda

“Saat Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru, dan musim liburan pasti full. Dalam sehari, jumlahnya bisa mencapai ribuan orang. Bahkan parkiran sampai tidak bisa menampung kendaraan pengunjung,” katanya.

Airnya yang jernih dan segar, kemudian suasana sekitar yang masih asri dan dipenuhi pepohonan yang rindang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata ini.

Bahkan wisata ini menjadi salah satu pilihan bagi keluarga untuk berkumpul, menikmati kuliner, dan mandi bersama.

Selain sebagai destinasi wisata alam, mata air Loang Gali juga banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat sekitar dan kebutuhan pertanian. Namun pada musim kemarau debit airnya akan berkurang, bahkan kering.

Baca Juga: Bazar Amal Tahunan WIC, Tenun Lenek Pukau Delegasi Negara Luar

Ketika debit air mulai surut, masyarakat Lenek dan sekitarnya akan melakukan ritual ngalu hujan. Sebuah prosesi adat untuk memohon agar segera diturunkan hujan.

“Biasanya dilakukan ketika debit air sudah mulai kurang, kemudian hujan tidak kunjung turun. Kami bersama masyarakat akan melakukan doa dan zikir bersama atau ritual ngalu hujan,” jelasnya. (*/r7)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Lenek sungai wisata alam wisata mata air