Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Defisit Air Mengancam, Biaya OP Irigasi di NTB Terbatas

Y
Penulis: Yuyun Kutari❯
HARUS JADI ATENSI: Kondisi salah satu jaringan irigasi di NTB yang menjadi bagian penting, dalam mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian. (IVAN/LOMBOK POST)
HARUS JADI ATENSI: Kondisi salah satu jaringan irigasi di NTB yang menjadi bagian penting, dalam mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian. (IVAN/LOMBOK POST)

Advertisement

LombokPost-Keterbatasan dukungan biaya operasi dan pemeliharaan (OP), menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan jaringan irigasi di NTB.

“Itu yang menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan jaringan irigasi kita di NTB,” terang Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) NTB Lalu Gede Teguh Darmawangsa.

Selain persoalan pembiayaan, sejumlah jaringan irigasi di berbagai wilayah, juga membutuhkan penanganan agar tetap berfungsi optimal. Infrastruktur pendukung ketersediaan air, termasuk jaringan irigasi yang berkaitan dengan Bendungan Bintang Bano dan Tiu Suntuk, turut menjadi perhatian. 

Di sisi lain, ancaman kekeringan turut memperbesar tantangan pengelolaan air di NTB. Berdasarkan paparan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara (NT) I, Wilayah Sungai Lombok diproyeksikan mengalami defisit air hingga 271,83 juta meter kubik pada September 2026.

Sementara Wilayah Sungai Sumbawa diproyeksikan mengalami defisit 104,64 juta meter kubik pada periode yang sama. Defisit tersebut berkaitan dengan pengaruh El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.

Advertisement

Kondisi ini membuat pengelolaan dan distribusi air untuk kebutuhan pertanian perlu dilakukan secara lebih optimal. Menghadapi ancaman tersebut diperlukan koordinasi yang semakin kuat antara pemerintah, pengelola sumber daya air, dan kelembagaan petani.

“Pengelolaan irigasi membutuhkan koordinasi yang semakin kuat, mulai dari operasi jaringan, pemeliharaan infrastruktur, pengaturan distribusi air, hingga penyesuaian pola tanam,” ujarnya. 

DPUPRPKP NTB juga menerima sejumlah masukan mengenai persoalan di lapangan. Di antaranya pengambilan air tanpa izin, sampah pada jaringan irigasi, alih fungsi lahan pertanian, hingga perlunya sinkronisasi program. 

Pemutakhiran data kelembagaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/GP3A/IP3A) juga menjadi perhatian untuk mendukung pengelolaan irigasi. Seluruh hasil pembahasan dan masukan tersebut selanjutnya menjadi bahan penyusunan rekomendasi Komisi Irigasi NTB.

“Rekomendasi ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sumber daya air dan jaringan irigasi sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah ancaman kekeringan dan perubahan iklim,” tandasnya.

Advertisement
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Raden Nuna Minta Pemprov Mitigasi Kekeringan, Desak Bendungan Meninting Segera Dioptimalkan

Raden Nuna Minta Pemprov Mitigasi Kekeringan, Desak Bendungan Meninting Segera Dioptimalkan

Potensi ancaman musim kemarau panjang kini membayang-bayangi wilayah NTB, jika tidak segera diantisipasi, ini akan menimbulkan masalah.

Brimob Polda NTB Salurkan 1.000 Liter Air Bersih untuk Korban Gempa di Ende

Brimob Polda NTB Salurkan 1.000 Liter Air Bersih untuk Korban Gempa di Ende

Brimob Polda NTB menyalurkan 1.000 liter air bersih kepada warga terdampak gempa di Dusun Nioniba, Kabupaten Ende, NTT.

Prediksi Kemarau Panjang, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis

Prediksi Kemarau Panjang, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan terjadi kemarau panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Dari ril

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer