LombokPost-Di balik teriknya cuaca kemarau tahun ini, ada senyum petani tembakau rajang yang mulai merekah. Cuaca panas ini tidak hanya membuat tembakau rajang cepat kering saat dijemur, tetapi juga berdampak terhadap kualitas dan harganya.
Pagi belum sepenuhnya terang.
Namun, sekelompok perempuan paro baya sudah sibuk memetik daun-daun suli tembakau, yakni daun-daun kecil yang tumbuh di batang tembakau setelah daun utama habis dipanen.
Tak jauh dari sana, terlihat petani mulai menjejerkan tembakau yang sudah dirajang di tempat penjemuran. Sebagian dijemur menggunakan kelabang, sebagian lagi dengan jaring.
Cuaca panas tahun ini mendatangkan berkah bagi para petani, salah satunya Muhammad Nur, seorang petani tembakau rajang asal Desa Lenting, Kecamatan Sakra Timur.
Baca Juga: Kualitas Tembakau Lotim Membaik
Muhammad Nur menyampaikan, cuaca tahun ini sangat bagus, tidak seperti musim tanam tahun 2025 lalu.
Sejak awal musim tembakau hingga mau berakhir, cuaca cukup stabil sehingga sangat mendukung dan berdampak terhadap tanaman maupun kualitas tembakau.
"Sejak mulai menanam cuaca cukup bagus, kalaupun dia hujan hanya sehari saja, jarang sampai berhari-hari seperti tahun lalu," terang Muhammad Nur, Selasa (13/10).
Pada musim tanam tahun lalu, cuaca tidak menentu dan musim hujan lebih awal datang.
Bahkan, saat petani baru panen tiga hingga empat kali, hujan sudah mulai turun dan berlangsung cukup lama. Kondisi itu membuat tembakau rajang sulit kering dan berdampak terhadap kualitas tembakau.
Baca Juga: Gempur Rokok Ilegal di Lombok Utara, Satgas BKC NTB Sita Ribuan Batang Rokok dan Tembakau Tanpa Cuka
Bahkan, tahun lalu banyak tembakau rajang, terutama tembakau jenis suli, yang kualitasnya hitam dan terbuang sia-sia karena busuk setelah diguyur hujan sehingga harganya juga anjlok.
"Sekarang sehari saja tembakaunya sudah kering dijemur. Tapi proses penjemuran tetap kami lakukan selama dua hari. Karena satu hari untuk proses pengeringan dan satu hari untuk pembentukan warna," jelasnya.
Cuaca yang tidak menentu tahun lalu juga membuat para petani enggan untuk merawat dan merajang daun suli. Mereka hanya fokus pada daun utama karena harga daun suli saat itu sangat murah.
Baca Juga: Tembakau Cokelat Sulit Terserap Perusahaan
Tahun ini tembakau suli dengan kualitas bagus atau warna kuning dijual dengan harga Rp 1,5 juta lebih per kuintal. Sementara tahun lalu, dengan kualitas yang sama, harga tertinggi di angka Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu per kuintal.
Semua tanaman tembakau di sawah tahun ini juga disebut cukup bagus sehingga petani bisa panen hingga 7 kali. Dibandingkan tahun lalu, petani hanya bisa panen 6 kali karena banyak tembakau yang sudah matang atau kuning di pohonnya.
Cuaca saat ini diakui membuat petani bisa mendapatkan keuntungan. Bahkan, keuntungan itu sedikit bisa menutupi utang akibat kerugian karena cuaca buruk tahun lalu.
Baca Juga: Dewan Minta Petani Jaga Kualitas Daun Tembakau
"Alhamdulillah ada lah keuntungan kita sekarang. Karena harga tembakau tahun ini cukup bagus dan kualitasnya juga bagus," katanya.
Sementara itu, harga tembakau rajang biasa disebut tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, mulai dari Rp 4,5 juta hingga Rp 5 juta per kuintal, bahkan lebih, tergantung kualitas dan berat tembakau.
"Tidak jauh bedanya kalau yang daun biasa. Cuma kualitas tembakau tahun ini lebih banyak yang bagus daripada yang jelek," tandasnya. (*/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post