LombokPost-Kehadiran King Stroberi menjadi angin segar sekaligus solusi bagi para petani stroberi di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun. Agrowisata ini berhasil mendongkrak pendapatan petani.
“Agrowisata ini lahir dari keprihatinan kami terhadap para petani stroberi yang sering bingung menjual hasil mereka saat panen raya tiba,” terang Pengelola sekaligus Ketua King Stroberi Muhammad Arifin, Kamis (22/10).
Saat panen raya tiba, buah stroberi akan melimpah. Bahkan, banyak buah yang rusak karena tidak bisa terserap pasar. Namun, konsep agrowisata ini memberikan solusi dan dapat meningkatkan perekonomian petani.
Baca Juga: Kunjungan Wisata Petik Stroberi Makin Ramai
Kata dia, sebelum adanya agrowisata ini, pendapatan petani berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu per hari. Kini, setelah adanya pengelolaan dari King Stroberi yang mengenalkannya kepada wisatawan, pendapatan petani meningkat menjadi Rp 700 ribu lebih per hari.
“Alhamdulillah konsep agrowisata ini cukup membantu petani untuk memasarkan hasil produksi mereka dan berdampak terhadap perekonomian mereka,” katanya.
Meski tergolong baru, King Stroberi telah mengelola sebanyak 137 titik lokasi kebun stroberi milik petani. Tak hanya menguntungkan petani stroberi, keberadaan pusat kunjungan ini turut memberi manfaat bagi petani komoditas hortikultura lainnya.
Wisatawan tidak hanya bisa menikmati stroberi, tetapi juga membeli dan memetik sayuran segar, seperti seledri, bawang prei, hingga selada, langsung dari kebun warga.
“Setiap pengunjung diwajibkan untuk memeriksa kondisi buah dan kebun terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli tiket masuk,” katanya.
Adapun tarif tiket masuk yang diberlakukan sangat terjangkau. Untuk anak-anak umur di bawah 2 tahun gratis, anak-anak umur 3–7 tahun dikenakan tarif Rp 15.000 per orang, dan dewasa 8 tahun ke atas tarifnya Rp 25.000 per orang.
Baca Juga: Libur Sekolah, Monjet Stroberi Diserbu Seribu Pengunjung
Fasilitas tiket ini sudah mencakup akses makan buah stroberi sepuasnya di dalam kebun. Pengunjung bahkan diperbolehkan membawa bumbu rujak sendiri.
“Untuk menjaring pengunjung, kami memanfaatkan media sosial untuk promosi dan menjalin kemitraan dengan beberapa penginapan di Sembalun,” katanya. (par/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post