LombokPost - Pada suatu malam yang hening, ketika langit menggantungkan sunyi di atas desa, seorang lelaki tua duduk bersila dengan segenggam daun lontar dan sepotong bilah kayu sebagai pena. Bukan malam biasa. Ia tahu betul itu. Karena malam itu bukan hanya Jumat, bukan hanya Wage, tapi juga berada dalam guliran waktu yang disebut "Tahun Alip"—siklus langit yang jarang dan dianggap sakral oleh para wariga tua.
Dengan gemetar kecil tapi niat yang teguh, ia mulai menurunkan tembang. Tapi ia tidak langsung masuk ke cerita. Ia tidak buru-buru mengisahkan kerajaan atau pertarungan. Ia mulai dari semesta.
Ia memanggil nama Allah, yang menciptakan langit dan bumi, kursi Arsy, dunia dan akhirat, surga dan neraka, dan seluruh realitas yang tampak maupun yang tak terlihat. Lalu ia menyebut nama utusan terakhir: Muhammad Rasulullah, penutup para nabi, cahaya yang membelah zaman. Ia memuji dengan lembut, penuh hormat.
Dan sebelum ia benar-benar menulis cerita, ia tunduk.
Meminta izin kepada semua nabi dan para wali luhur.
Sebab ia tahu, yang akan ia ceritakan bukan kisah biasa. Ini adalah warisan langit yang dititipkan lewat tembang kepada generasi yang belum lahir.
Ia tahu, tembang ini akan dibaca oleh orang-orang yang tak pernah ia temui. Mungkin oleh kita.
Teks Asli dan Terjemahan Babad Lombok bait 1-4:
Bait 1
Ngong hingsun hanurun gita,
sdek menging sasih Jumadilahir,
tanggal ping teluwelas hanuju,
tatkala malem Jum’at,
Wage Landep reke nenggih ukumpun,
tan riwayah wakmu bisa,
samara duk Tahun Halip.
Terjemahan:
Aku mulai menurunkan tembang,
di pertengahan bulan Jumadil Akhir,
menuju tanggal tiga belas,
ketika malam Jumat Wage Landep,
bukan waktu sembarangan,
terjadi di tahun Alip.
Bait 2
Allah Nabiya Allah,
kang hamurbandza datang bumi langit,
haran Korsi Lokalamun,
dunya lawan aherat,
siyarga Naraka lawan kisi rumud,
norana liyan kang hakarya,
sukma hikang kardi.
Terjemahan:
Allah Nabiya Allah,
yang menciptakan bumi langit,
disebut Korsi Arsy,
dunia dan akhirat,
surga neraka dan seisi alam,
Allah yang menciptakannya.
Bait 3
Horana liyan kang sun sembah,
kang sunpuji wutusaning Hyang Widi,
Nabi kang mulya hanutup,
Muhammad Rasulullah,
penguluning jeng nama mulya kang sawegung,
kang sinung rahmat dening Hyang,
hangga ksana.
Terjemahan:
Tak ada lain yang kusembah,
yang kupuji utusan Allah,
Nabi penutup yang mulia,
Muhammad Rasulullah,
Penghulu segala Nabi Mursalin,
yang mendapat rahmat Allah,
mohon berkat.
Bait 4
Moga sinungan dening Hyang,
sakatahing kula warga ning nabi,
hingkang nganut nabi rasul,
nda sinuga ngaras,
hing sakehing para nabi wali luhung,
lewih maring Sang Hyang Sukma,
haneda sampura mami.
Terjemahan:
Semoga dikaruniai oleh Tuhan,
semua umat nabi,
yang mengikuti nabi rasul,
mohon permisi menulis,
kepada semua nabi wali luhur,
dimuliakan oleh Allah Agung,
hamba mohon maaf.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin