Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Babad Lombok Bait 30–34, Bab Kosmologi, Naga Tujuh Kepala, Bumi Menyatu, dan Dakwah Nabi Idris

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 30 Mei 2025 | 21:00 WIB
BABAD LOMBOK BAIT 30-34: Bab Kosmologi, Naga Tujuh Kepala, Bumi Menyatu, dan Dakwah Nabi Idris
BABAD LOMBOK BAIT 30-34: Bab Kosmologi, Naga Tujuh Kepala, Bumi Menyatu, dan Dakwah Nabi Idris

Naga, Bumi Menyatu, dan Dakwah Nabi Idris: Bab Kosmologis dalam Babad Lombok

LombokPost - Setelah menjelaskan nasib orang-orang yang mengikuti ajaran sesat, bait 30–34 dalam Babad Lombok berubah arah.

Tidak lagi berbicara soal pemujaan berdarah atau penyebaran budaya iblis, tapi masuk ke dimensi kosmologis dan kenabian awal.

Bait 30 ditutup dengan peringatan keras:
Apa yang terjadi jika manusia mati dalam kekeliruan?

Lebih parah dari yang bisa dibayangkan. Api neraka menunggu. Bahkan orang pintar pun bisa terseret, jika terperdaya rayuan setan yang menyamar jadi kebenaran.

Lalu bait 31 tiba-tiba membuka tabir:
tentang bumi yang dulu satu.
Diceritakan, pada waktu itu Palembang, Jawa, Bali, Banjar, Lombok, Sumbawa, Ende, dan bahkan Timor Kucing—semuanya menyatu menjadi satu daratan. Dalam satu bumi yang tunggal.

Dan siapa yang menyatukannya?

Bait 32 menjawab:
seekor naga berkepala tujuh.
Diperintah oleh Tuhan, naga itu mengumpulkan potongan-potongan bumi agar kembali menjadi utuh seperti semula.

Ini adalah metafora luar biasa dalam kosmologi lokal Sasak: bahwa bumi terpecah karena kesalahan manusia, dan akan kembali satu bila manusia kembali kepada kebenaran.

Bait 33 menyebut tentang kitab yang mencatat ini, dan menyebut seorang tokoh: Ratu Giri Pali Kasmara, yang memiliki mukjizat, mampu menghidupkan orang mati dan melawan orang kafir.

Figur ini bisa jadi simbol perjuangan spiritual yang memadukan kekuatan ilmu dan iman.

Kemudian bait 34 membuka kisah baru: zaman Nabi Idris.

Disebutkan bahwa ketika dunia masih muda, Idris diangkat sebagai nabi yang mulia, yang menyebarkan Islam dan memerintahkan semua orang yang tersesat untuk kembali ke jalan yang benar.


Baca Juga: Babad Lombok Bait 1-4, Kisah Leluhur dalam Bait Pangkur Malam Jumat Wage

Refleksi untuk Hari Ini

Bagian ini membawa kita ke inti pelajaran spiritual Babad Lombok:
Kesatuan bumi mencerminkan kesatuan hati.


Ketika manusia tercerai-berai oleh hawa nafsu, bumi pun terbelah. Tapi saat umat kembali pada kebenaran, bumi akan menyatu kembali.

Metafora naga tujuh kepala bisa ditafsirkan sebagai energi kosmis, atau simbol tujuh penjuru bumi yang dikendalikan oleh Tuhan agar kembali harmonis.

Dan sosok Nabi Idris mewakili suara kenabian yang lembut tapi kokoh, yang mengajak tanpa memaksa, tapi tak pernah berhenti menyuarakan kebenaran.

 

Tentang Naskah Ini

Narasi ini diambil dari bait 30–34 Babad Lombok versi 1994. Bagian ini menggabungkan ajaran moral, mitologi bumi, dan risalah Nabi Idris menjadi satu alur kosmologis yang penuh makna. Diterjemahkan ke dalam narasi kontemporer agar dapat dihayati oleh generasi masa kini.

Lampiran Teks Asli Babad Lombok (Bait 30–34)

Bait 30

Apa lagi nanti kalau mati,
lebih lagi siksa diterimanya,
karena masuk neraka besar,
di neraka jahanam,
darah orang pintar yang bodoh,
terkena rayuan setan,
disangka menjadi kebenaran.

Pangkur:
Hapa lagi niya neka pejah,
wuwuh malih deniya mangih balahi,
pan manjinging haneng kala gomuka,
hiki getih wong pinti lintah bodo nipun,
kena pamaning setan,
den sungguh dadiya miyatanin.

Bait 31

Ketika di hadapannya,
sewaktu belum ada apa-apa di bumi,
Palembang dan Jawa itu,
Bali Selan Banjar,
Banjar Lombok Sumbawa,
Ende memanjang,
Timor Kucing jadi satu,
masih satu bumi itu.

Pangkur:
Nalika hing ngarsanira,
hings durung dapa ngusakake hing bumi,
Palembang lan Jawa hiku,
Bali Salan Banjar,
Banjar Lombok Sembawa,
Ende hanglajur,
Himur Kucing pon tunggal,
lagi satunggil kang bumi.

Bait 32

Kata babad dahulu,
ada naga tujuh kepalanya,
diperintah oleh Tuhan,
mengumpulkan bumi itu,
sejak mula sampai genap dua ribu,
supaya bumi utuh lagi,
menjadi satu seperti awal.

Pangkur:
Kocaping babading kina,
hana naga tuju kapala neki,
hanitah dera Hyangagung,
haminggat bumi hika,
doking tembe yen wus genep kalih hewu,
pan bumi reke waluya,
hatunggal kadi rumi­hin.

Bait 33

Begitu kata kitab,
babad di masa lalu,
ditemukan susuhunan Ratu,
Giri Pali Kasmara,
yang dikaruniai mukjizat,
menghidupi orang mati,
melawan orang kafir.

Pangkur:
Mangkana kocaping kitab,
babad hira rumihin hing kang nguni,
katu­temuking susunan Ratu,
Giri Pali Kasmara,
kang sinungan mujidil dera Hyang Ngagung,
hanguriping hing wong pejah,
hambales hing wong kapir.

Bait 34

Ada lagi ganti riwayat,
ketika zaman Nabi Idris dahulu,
masih baru dunia itu,
Nabi Idris sangat mulia,
memuji semua yang di Islamkan,
yang tersesat jadi kufar,
disuruh masuk Islam semua.

Pangkur:
Wenten gentining ring wahyat,
duk samaning Nabi Idris kang ngunni,
lagi hanya­ar duni­ya hiku,
Nabi Idris luwih Mursal,
muji sakeh hen­yelami kabeg hiku,
wong kena sasar dadi kupar,
den konna selam sami.

 

(Bersambung)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#babad lombok #naga tujuh kepala #giri pali kasmara #bumi menyatu dan pecah #bait pangkur #bumi satu dalam babad #bait 30 hingga 34 babad lombok #ajaran islam zaman dahulu #kosmologi dalam lontar lombok #sejarah mitologi sasak #nabi idris dalam babad lombok