LombokPost - Memudarnya permainan tradisional di era modern kini menjadi tantangan serius bagi kelestarian budaya bangsa.
Padahal, aktivitas fisik dalam berbagai permainan tersebut terbukti mampu membuat masyarakat menjadi lebih sehat dan bugar secara alami.
Selain itu, nilai kebersamaan yang terjalin saat bermain menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih ceria dan bahagia.
”Tetapi juga melalui permainan tradisional itu menjadi ajang transfer knowledge (pengetahuan) mengenai sejarah,” kata pegiat permainan tradisional Nelda Hannia.
Menurut dia, munculnya permainan tradisional itu dari leluhur. Itu menjadi sumber sejarah. ”Jika kita telisik sebenarnya munculnya permainan itu ada dasarnya. Sehingga sampai sekarang kita bisa mengenalnya,” ungkapnya.
Munculnya suatu permainan tradisional itu sebagian besar sebenarnya karena menjadi ajang silaturahmi para orang tua terdahulu. Mereka membentuk aturan dan cara bermainnya menjadi lebih terukur. ”Semua muncul ada sebabnya. Salah satu yang penting dalam permainan tradisional itu adalah silaturahmi. Menyatukan rasa simpatik antar satu sama lain,” kata Nelda.
Manfaat dari permainan tradisional itu memiliki nilai positif. Untuk itu, perlu dipertahankan agar bisa dinikmati anak cucu ke depan. ”Dari situlah kami tergerak untuk mempertahankan permainan tradisional melalui komunitas yang dibentuk. Kami punya komunitas namanya Yora Hero,” bebernya.
Tantangan permainan tradisional bisa tergerus. Sebab saat ini, masyarakat sudah beralih ke gadget. “Semua kalangan sudah bisa mengakses gadget. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Mereka sekarang malah enggan ingin mengembangkan permainan tradisional ini,” ujarnya.
Pihaknya sudah melakukan riset di beberapa kecamatan di Lombok Utara. Di setiap desa malah tidak ada yang mau bermain permainan tradisional. ”Jangankan main. Mengenalnya pun tidak,” kata dia.
Sebenarnya, banyak permainan tradisional yang bisa dimainkan. Seperti permainan selodor, lempar tembing, sungkit, cerpak, gangsing, dan lainnya. ”Kalau permainan tradisional yang kita punya sebenarnya banyak. Kalau dari penelitian kami jumlahnya ratusan,” kata perempuan lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram itu.
Permainan tradisional itu juga tidak mendapatkan dukungan dari kalangan pemerintah. Tidak pernah ada festival yang memainkan permainan tradisional. ”Bagaimana bisa hidup dari pemerintah saja tidak peduli,” ungkapnya.
Yang diperlukan saat ini adalah seluruh permainan tradisional itu harus masuk ke sekolah. Tidak hanya dipraktikkan, melainkan juga harus menjadi pembelajaran secara kontekstual. ”Sehingga bisa memberikan dampak ke generasi mendatang,” kata perempuan kelahiran 1 Agustus 2003 itu.
Ruang bermain anak yang semakin sempit membuat berbagai permainan warisan leluhur kehilangan tempat tumbuhnya. Tidak hanya lokasi bermain yang hilang, tetapi juga tanaman, bahan baku, hingga pengetahuan yang seharusnya diwariskan ke generasi muda.
“Ruang main mereka sudah tidak ada lagi. Selain tanaman dan bahan baku yang hilang, pengetahuan yang hilang juga menjadi persoalan. Mengelola aktivitas bermain itu juga tidak ada,” kata perempuan asal Kayangan Lombok Utara itu.
Ia menjelaskan, permainan tradisional bergerak dalam ruang yang berbeda ketika masuk kategori permainan rakyat. Banyak nilai dan konteks yang bergeser. “Itu permainan rakyat, menginjak ranah beda lagi ceritanya. Kecuali kalau itu bisa jadi olahraga yang mungkin perlu difestivalkan,” katanya.
Menurutnya, untuk mempertahankan permainan tradisional dibutuhkan inisiatif yang konsisten. Namun sejauh ini, langkah-langkah tersebut belum terlihat kuat. “Cara mempertahankan mestinya inisiasi sudah dilakukan kawan-kawan,” ujarnya.
Padahal, permainan-permainan tradisional sangat mungkin diangkat menjadi bagian dari ajang nasional, termasuk Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas). “Mestinya ada banyak permainan tradisional yang tidak mesti dilombakan. Paling tidak bisa ekshibisi dulu untuk memperkenalkan,” kata dia.
Peran Kunci Orang Tua
Wabup Lombok Tengah Nursiah menyebut, selain pemerintah diperlukan peran orang tua dalam melestarikan permainan tradisional ini. Antara lain, orang tua menjadi teladan dan guru pertama. Orang tua adalah sumber pengetahuan dan pengalaman terbaik bagi anak-anak. Kemudian, mengajar dan bermain bersama.
Orang tua jangan hanya menyuruh, tetapi libatkan diri untuk bermain. “Peran orang tua adalah menjadi fasilitator aktif, memastikan bahwa keseruan bermain di luar ruangan tidak hanya menjadi sejarah, tetapi juga bagian dari memori masa kecil anak-anak mereka,” tambah Wabup Nursiah. (arl/ewi/r3)
Editor : Prihadi Zoldic