Langkah Asprov PSSI NTB ini pro kontra. Komersialisasi Liga 3 NTB dinilai belum saatnya, apalagi di tengah ekonomi masyarakat yang masih terpuruk akibat covid-19.
Salah satu kritik datang dari Chairman Lombok Football Club (Lombok FC), H. Bambang Kristiono (HBK). Anggota DPR RI Dapil NTB ini menilai, belum saatnya Liga 3 NTB diberlakukan pembelian karcis, mengingat Liga 3 sifatnya juga masih amatir.
”Saya berpendapat bahwa karcis buat penonton baru boleh diberlakukan apabila sepak bola NTB sudah berada di level profesional atau Liga 2,” ujar HBK, Sabtu (6/8).
Asprov PSSI NTB sendiri telah mengumumkan menjual dua kategori tiket selama penyelenggaraan Liga 3 yang diikuti 26 klub. Tiket VIP dijual dengan harga Rp 500 ribu dan tiket untuk kelas biasa dijual dengan harga Rp 15 ribu untuk setiap pertandingan.
HBK menegaskan, Asprov PSSI NTB seharusnya lebih kreatif dalam mencari pendanaan. Salah satunya dengan menarik sponsor untuk turut membantu menopang pembiayaan kompetisi. ”Intinya, gelaran Liga 3 yang masih amatir ini, jangan dululah dikomersialisasikan. Prioritas para petinggi Asprov PSSI NTB saat ini mestinya adalah, mendorong agar GOR terisi penuh penonton. Mulai membangun antusiasme, fanatisme, dan militansi para supporter terhadap klub kebanggaannya masing-masing,” sarannya.
Alih-alih menjual tiket pertandingan, seharusnya Asprov memberikan dulu insentif kepada masyarakat pecinta sepak bola NTB untuk masuk stadion secara gratis. Karena itu, HBK ingin Liga 3 NTB tahun ini, bukan menjadi momentum komersialisasi kompetisi. Tetapi, momentum untuk memupuk dan membina loyalitas fans klub peserta Liga 3.
”Berikan kesempatan kepada para pecinta sepak bola NTB untuk bisa menikmati gelaran sepak bola klub-klub kecintaannya. Karena sepak bola tanpa suporter itu seperti sayur tanpa garam, anyep, dan nggak ada menarik-menariknya,” cetus dia.
Sebagai wujud keberpihakannya kepada para suporter, manajemen Lombok FC menyumbangkan seluruh dana pembinaan dari Asprov PSSI NTB Rp 20 juta. Sumbangkan itu diserahkan kepada manajemen Babalo, group supporter Lombok FC.
Dana sebesar Rp 20 juta tersebut akan digunakan para Babalo -sebutan untuk para suporter Lombok FC di seluruh NTB- untuk membeli tiket menonton setiap pertandingan yang akan dijalani Lombok FC. Rencananya, penyerahan dana kepada group suporter Babalo tersebut akan dilakukan Presiden/CEO Lombok FC Rannya Agustyra Kristiono di ruang pertemuan Mess Lombok FC sebelum Lombok FC bertanding di laga perdananya. ”Kami memahami sepenuhnya, bahwa para suporter merupakan bagian yang sangat penting dalam setiap moment pertandingan. Akan terasa hampa sebuah pertandingan sepak bola tanpa kehadiran suporter,” kata Rannya terkait langkah pihaknya yang menyumbangkan dana pembinaan untuk pembelian tiket bagi Babalo, group suporter Lombok FC.
Dara yang banyak menginspirasi para millenial di NTB ini menegaskan, para suporter tak ubahnya pemain kedua belas dalam sebuah klub sepak bola. Bagi Lombok FC, Babalo menjadi sumber semangat, sumber energi, dan sumber kekuatan bagi seluruh pemain Lombok FC yang sedang bertanding di lapangan.
Kehadiran Babalo di setiap pertandingan juga dapat memberikan semangat, kekuatan, dan motivasi bagi para pemain, tim pelatih, maupun official klub. ”Lebih dari pada itu, suporter adalah penopang dan prasyarat utama jika sebuah klub ingin menjadi klub sepakbola profesional,” pungkasnya.
Ketua Asprov PSSI NTB Mori Hanafi menjelaskan, ada skema dan dasar pengambilan kebijakan penjualan tiket bagi penonton Liga 3 Bank NTB Syariah 2022. Tiket yang dipatok Rp 500 ribu merupakan tiket terusan untuk 100 hari pertandingan. Jika dibagi per hari, maka harganya Rp 5 ribu.
Sedangkan untuk tiket Rp 15 ribu per pertandingan dinilai masih dalan jangkauan masyarakat. Biaya ini untuk mengganti biaya operasional setiap pertandingan yang tidak sedikit. ”Kalau dirasa masih berat, pertandingan bisa disaksikan melalui Lombok TV dan diakses di aplikasi Youtube,” jelasnya.
Mori menyayangkan pihak Lombok FC tidak melakukan protes saat technical meeting berlangsung. Karena saat itu masalah penjualan tiket juga sudah disampaikan kepada manajer klub yang hadir. ”Lucu saja tidak protes saat pertemuan langsung dari Lombok FC,” katanya.
Mori mengatakan, penjualan tiket Liga 3 provinsi tidak hanya terjadi di NTB. Tetapi di provinsi lain juga diberlakukan. Bahkan tarifnya lebih tinggi daripada yang dipatok di NTB. ”Ini untuk memajukan industri sepak bola ke arah yang lebih baik,” tandasnya. (puj/r8) Editor : Redaksi Desain Grafis