LombokPost - Performa atlet-atlet angkat besi NTB di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Angkat Besi 2025 di Jogjakarta cukup bagus.
Meskipun tidak mendapatkan medali, namun performa atlet NTB mengalami peningkatan dari proses latihan.
Ini menunjukkan program latihan yang sudah dijalan berada di jalan yang tepat.
”Anak-anak memang tidak ditargetkan medali. Karena saingannya atlet senior. Kejurnas untuk menambah jam terbang dan pengalaman bertanding,” ujar Pelatih Angkat Besi NTB Libuh Hanafi.
Libuh menjelaskan pada kejurnas tersebut, NTB menurunkan tiga atlet. Yakni Febriana Wahyuningsih di kelas 69 kilogram putri, Wahyudi di kelas 60 kilogram, dan Gunawan di kelas 65 kilogram.
Pada kejurnas tersebut, Febriana yang sebelumnya tampil di PON XXI Aceh-Sumut 2024 berhasil membukukan total angkatan terbaik seberat 154 kilogram.
Kemudian Gunawan berhasil meraih total Angkatan terbaik seberat 185 kilogram. Sedangkan Wahyudi mencatatkan 161 kilogram.
”Hasil angkatan mereka melebihi hasil latihan. Rata-rata mengalami kenaikan 15-20 kilogram. Ini menunjukkan hasil latihan sudah bagus tinggal ditingkatkan lagi,” tuturnya.
Cabor angkat besi NTB terhitung cabor baru di NTB. Meski begitu, angkat besi sudah mengikuti PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024. Kala itu, Febriana menjadi satu-satunya atlet angkat besi NTB yang tampil dalam multievent olahraga nasional tersebut.
Namun Febri belum berhasil meraih medali. Karena saingan yang harus dihadapi merupakan atlet-atlet penghuni pelatnas dan kerap menjadi wakil Indonesia di ajang internasional.
Sementara itu, Ketua Pengprov Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) NTB Karina De Vega mengatakan atlet-atlet angkat besi tersebut diturunkan untuk mengasah mental bertanding.
”Jadi memang tidak kita bebankan target yang tinggi di kejurnas. Cukup memperbanyak jam terbang dan pengalaman,” ujarnya.
Karina menjelaskan pengalaman atlet NTB di kejuaraan nasional atau diluar NTB sangat penting.
Mengingat cabor angkat besi tergolong cabor baru di NTB. Sehingga atlet-atlet masih membutuhkan banyak jam terbang.
”Kita bisa evaluasi berdasarkan hasil itu. Apa yang menjadi kekurangan tentu kita harus benahi,” pungkasnya.
Editor : Pujo Nugroho