Fluminense bersiap hadapi tantangan besar di Piala Dunia Antarklub 2025. Tapi sang pelatih, Renato Gaúcho, justru menyentil langsung status PSG sebagai favorit.
LombokPost - Suasana panas menyelimuti Piala Dunia Antarklub 2025.
Jelang laga-laga besar, pelatih Fluminense Renato Gaúcho kembali menyita perhatian dengan pernyataan pedas soal Paris Saint-Germain (PSG), klub raksasa asal Prancis yang dijagokan jadi juara.
Dalam konferensi pers terbaru di Amerika, Renato menegaskan bahwa kekuatan finansial tidak otomatis menjamin kemenangan di lapangan.
"PSG benar-benar sebuah grup, sebuah tim, klub yang sangat kuat," ucap Renato.
"Uang itu penting, tetapi di lapangan, sepak bola ditentukan di lapangan. Mungkin itu favorit Anda, tetapi masih banyak yang akan datang."
Alih-alih gentar, Gaúcho malah memanaskan suasana dengan menekankan pentingnya kerja kolektif dan kerendahan hati.
Fluminense sendiri akan menghadapi Al-Hilal dalam laga berat yang dijadwalkan pukul 16.00 waktu Brasilia.
Al-Hilal bukan lawan sembarangan. Klub asal Arab Saudi itu menghebohkan publik sepak bola usai menyingkirkan Manchester City di babak 16 besar.
Bagi Renato, hal itu jadi bukti bahwa kejutan masih sangat mungkin terjadi.
"Kemajuan mereka sangat hebat, saya tidak tahu seberapa jauh jika dibandingkan dengan tim Eropa," ujar Renato.
"Menurut pendapat saya, mungkin City sedikit meremehkan mereka karena mengira bisa menang kapan saja."
Baca Juga: Kekuatan Uang Al Hilal Mulai Buat Theo Hernandez si Pemain AC Milan Goyah
Di sisi lain, pelatih Al-Hilal Simone Inzaghi justru menyambut duel ini dengan penuh hormat.
Ia memuji kualitas Fluminense yang dinilainya pantas berada di babak perempat final.
"Kami akan menghadapi tim yang hebat dan bukan kebetulan mereka berhasil mencapai perempat final. Renato Gaúcho adalah pelatih yang hebat," ujar Inzaghi.
Piala Dunia Antarklub tahun ini tak hanya menghadirkan kekuatan finansial dari Eropa atau Timur Tengah.
Fluminense hadir sebagai simbol bahwa strategi, kerja tim, dan rasa percaya diri tetap menjadi senjata utama di atas lapangan.
Renato Gaúcho ingin membuktikan, bahwa sepak bola bukan hanya soal siapa yang paling kaya. Tapi siapa yang paling siap—secara taktik, mental, dan hati.