Keselamatan Pembalap Jadi Fokus MGPA, Marshal dan Tenaga Medis Dilatih
Lestari Dewi• Sabtu, 30 Agustus 2025 | 09:26 WIB
MGPA matangkan persiapan teknis MotoGP Mandalika 2025 dengan melatih marshal dan tenaga medis di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, Jumat (29/8).
LombokPost-Gelaran MotoGP Mandalika 2025 tinggal hitungan minggu. Di balik persiapan, Mandalika Grand Prix Association (MGPA) fokus memperkuat sektor krusial, yakni keselamatan balap.
Marshal dan tenaga medis pun digembleng langsung di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah.
Pelatihan ini menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan, mengingat marshal adalah garda terdepan dalam menjaga kelancaran, keamanan, dan keselamatan balapan.
Selain untuk MotoGP, pelatihan juga menjadi sarana evaluasi kemampuan marshal dalam mendukung ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) yang digelar pekan ini.
MGPA bekerja sama dengan Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), federasi balap motor dunia yang rutin menjalankan FIM Marshal Training Program.
Kali ini, dua instruktur internasional dari Australia didatangkan, yakni Sekretaris Jenderal sekaligus anggota Dewan FIM Oceania Simon Maas dan anggota FIM Oceania Gary Bleazby.
“Kedua instruktur tersebut membawa pengalaman panjang dalam penyelenggaraan balap motor internasional dan memberikan pelatihan langsung kepada para marshal Mandalika,” kata Direktur Utama MGPA Priandhi Satria, Jumat (29/8).
Sebanyak 30 marshal mengikuti pelatihan di berbagai posisi strategis, antara lain Sector Chief Marshal, Pos Chief Marshal, dan Race Control Staff Marshal. Fokus utama diberikan kepada para chief marshal.
Setelah menerima materi, para chief marshal diharapkan bisa menularkan ilmu dan teknik yang diperoleh kepada tim masing-masing.
Dengan begitu, manfaat pelatihan tidak hanya dirasakan 30 peserta, tetapi menyebar ke seluruh marshal yang bertugas saat MotoGP 2025.
Untuk pelatihan tenaga medis, lanjut Priandhi atau Andhi, sebanyak 60 tenaga medis terlibat, terdiri dari 14 dokter dan 46 perawat.
Pelatihan ini menjadi agenda penting untuk memastikan standar keselamatan dunia internasional, mengingat MotoGP dikenal sebagai olahraga dengan tingkat risiko tinggi.
Tenaga medis tersebut tidak hanya berasal dari NTB, tetapi juga dari Kalimantan Selatan, Jayapura, Surabaya, dan Bandung.
Kolaborasi ini mencerminkan dukungan nasional terhadap perhelatan olahraga bergengsi dunia.
Pelatihan dilaksanakan di sejumlah titik strategis sirkuit, termasuk Medical Center sebagai pusat koordinasi, serta area Tikungan 10 dan Tikungan 16 yang dinilai memiliki risiko insiden lebih tinggi berdasarkan pengalaman sebelumnya.
Andhi menegaskan, pelatihan marshal dan tenaga medis adalah bagian dari komitmen Indonesia menyelenggarakan MotoGP dengan standar keselamatan internasional.
Kecepatan dan ketepatan tenaga medis sangat menentukan dalam olahraga berisiko tinggi ini.
Pelatihan digelar agar setiap tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang sama, mampu bekerja terpadu, dan siap menghadapi skenario terburuk.
“Dengan dukungan tenaga medis dari berbagai daerah, kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan pelayanan medis berkelas dunia di Mandalika,” tutup dia.