LombokPost - Drama besar mewarnai MotoGP Mandalika 2025 akhir pekan lalu. Pecco Bagnaia, juara dunia dua kali sekaligus andalan Ducati MotoGP, tampil di luar dugaan setelah pekan sebelumnya berjaya di Motegi, Jepang.
Dari start di posisi ke-16, Bagnaia finis terakhir di sprint race dan kemudian gagal menyelesaikan balapan utama setelah terjatuh di lap ke-8.
Hasil ini membuat Pecco Bagnaia tampak benar-benar hancur di Mandalika, hingga Ducati memilih menahan sorotan media untuk melindungi psikologinya.
Bos tim Ducati Lenovo Team, Davide Tardozzi, mengungkap bahwa Bagnaia adalah tipe pembalap yang sangat sensitif dan penuh emosi.
“Kami ingin melindunginya. Jika ia datang dengan air mata, itu tidak mengejutkan. Yang penting, ia masih percaya penuh pada kami,” kata Tardozzi, seperti dikutip dari Motorsport dan Crash.net.
Menurutnya, hubungan tujuh tahun antara Ducati dan Bagnaia membuat kepercayaan tidak pernah menjadi masalah meskipun performa tim anjlok di MotoGP Mandalika 2025.
Masalah Misterius di Mandalika
Dalam sesi sprint, Pecco Bagnaia mengaku merasa seperti “penumpang” di atas motornya.
Ia mengalami getaran hebat hingga beberapa kali kehilangan kontrol ketika masuk ke tikungan 1 dan 10.
“Saya datang ke tikungan tanpa rem dan beberapa kali harus menutup throttle karena motor bergerak sendiri,” ujarnya kepada Crash.net.
Padahal, motor yang digunakan disebut sama persis dengan saat ia menang di Motegi. Namun, baik Bagnaia maupun insinyur Ducati mengaku tidak punya jawaban mengapa performa tiba-tiba anjlok drastis.
Rumor pun mencuat bahwa Bagnaia sempat kembali menggunakan motor GP24 versi 2025 yang sebelumnya diuji di Misano.
Uccio Salucci dari VR46 bahkan mengungkap Ducati sempat meminjam motor milik Franco Morbidelli untuk Bagnaia di sesi tes. Namun Ducati tidak memberikan konfirmasi resmi mengenai hal ini.
Tuntutan Jawaban dari Bagnaia
Kekecewaan Bagnaia terhadap situasi di Mandalika semakin terlihat saat wawancara dengan GPOne.
Ia menyebut kondisi ini “tidak bisa diterima” dan menuntut penjelasan teknis dari kru Ducati. “Enam hari lalu saya menang di Jepang dengan motor ini, mengapa di sini (Mandalika) saya bahkan tidak bisa masuk 10 besar?” ujarnya.
Pengamat MotoGP, Alberto Vergani, menilai Bagnaia menjadi “korban ekspektasi” karena datang ke Mandalika dengan tekanan tinggi usai kemenangan besar di Motegi.
“Ekspektasi tinggi membuat kejatuhannya di Mandalika jadi pukulan emosional yang berat,” katanya.
Ducati Tetap Jadi Tameng
Meski hasil di Mandalika mengecewakan, Ducati MotoGP menegaskan mereka tidak akan membiarkan sang juara dunia tenggelam dalam kritik.
“Pecco Bagnaia percaya pada kami. Tidak ada yang berubah, dia tahu kami selalu berjuang 100% untuknya,” kata Tardozzi.
Ducati bahkan memuji Bagnaia yang tetap meminta maaf kepada tim setelah terjatuh di tikungan terakhir lap ke-8.
Dalam rilis resmi Ducati, disebutkan bahwa Bagnaia mengalami kehilangan grip bagian depan (front-end) saat masuk ke tikungan tersebut, sehingga crash tak terhindarkan.
Situasi ini membuat Pecco Bagnaia turun ke posisi ketiga klasemen sementara MotoGP 2025, tertinggal 88 poin dari Alex Marquez yang berada di posisi kedua.
Meski begitu, Ducati tetap mengunci gelar juara konstruktor dan tim berkat performa keseluruhan musim ini.
Fokus ke Phillip Island
Usai insiden Mandalika, Ducati memilih memberi waktu bagi Bagnaia untuk memulihkan mentalnya jelang seri selanjutnya di MotoGP Phillip Island.
Ducati berharap Bagnaia bisa kembali menemukan performa terbaiknya dan memperbaiki perburuan gelar juara. (***)
Editor : Alfian Yusni