LombokPost – Dua petenis Amerika akan saling berhadapan di final Wuhan Open 2025. Jessica Pegula dan Coco Gauff memastikan laga puncak bertajuk “All-American Final”, setelah sama-sama menyingkirkan lawan tangguh di semifinal turnamen WTA 1000 tersebut.
Jessica Pegula menorehkan comeback luar biasa setelah tertinggal 2-5 dari petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka di set ketiga. Petenis berusia 31 tahun itu berjuang hingga akhir dan menang dramatis 2-6, 6-4, 7-6 (2), mengakhiri rentetan 20 kemenangan Aryna Sabalenka di Wuhan.
Kemenangan tersebut mengantarkan Jessica Pegula ke final Wuhan Open 2025, di mana ia akan berhadapan dengan Coco Gauff, rekan senegaranya yang mengalahkan Jasmine Paolini 6-4, 6-3 di semifinal.
All-American Final Pertama di Wuhan
Final Pegula vs Gauff akan menjadi pertemuan pertama mereka di partai puncak turnamen WTA 1000. Meski Gauff masih muda, Pegula unggul head-to-head 4-2 atas kompatriotnya tersebut.
“Jess sangat berbahaya, terutama di lapangan keras. Ini akan menjadi final yang sulit dan menarik,” kata Coco Gauff.
“Akan luar biasa bertanding melawan Coco di final. Kami saling mengenal dengan sangat baik. Tidak ada rahasia - kami tahu rencana permainan masing-masing,” timpal Pegula.
Keunggulan Gauff: Muda, Cepat, dan Tajam di Pengembalian
Coco Gauff, petenis berusia 21 tahun, tampil luar biasa sepanjang turnamen Wuhan Open 2025. Ia mencatat 21 kemenangan babak utama di Tiongkok dalam tiga tahun terakhir — terbanyak di antara semua petenis putri.
Permainan pengembalian menjadi senjata utama Gauff. Dalam empat laga di Wuhan, ia memenangkan 111 dari 190 poin pengembalian (58,4 persen) dan mengonversi 22 dari 34 break point (64,7 persen).
Gauff juga mencatat 13 kemenangan melawan pemain Top 10 di ajang WTA 1000, terbanyak sebelum usia 22 tahun dalam sejarah WTA modern.
Menurutnya, atmosfer di Tiongkok memberikan “penyegaran mental”.
“Di AS terlalu banyak tekanan. Di sini saya merasa lebih bebas, lebih santai. Saya bisa bermain dengan lebih tenang,” ujar Gauff.
Keunggulan Pegula: Tangguh, Cerdas, dan Punya Mental Baja
Sementara itu, Jessica Pegula menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan menaklukkan Aryna Sabalenka — kemenangan yang ia sebut sebagai salah satu paling berharga dalam kariernya.
Pegula membalikkan rekor buruknya melawan pemain Top 10. Sebelumnya, ia 0-29 dalam laga di mana ia kalah di set pertama. Namun kali ini, ia justru bangkit dan menang di momen paling krusial.
“Saya tidak percaya bisa bangkit dan memenangkannya. Saya gugup saat servis, kehilangan ritme, tapi saya fokus lagi di tiebreak dan tetap percaya,” ujar Pegula.
Kemenangan itu juga menjadi kemenangan ke-50 Pegula musim ini, menjadikannya wanita tertua sejak Serena Williams (2015) yang mampu mencapai rekor tersebut dalam satu tahun kalender.
Prediksi: Duel Ketat Dua Gaya Berbeda
Dengan rekor head-to-head 4-2 untuk Pegula dan performa impresif Gauff di Wuhan, final ini diprediksi berlangsung ketat. Pegula punya pengalaman dan kecerdasan taktik, sementara Gauff unggul dalam kecepatan dan stamina.
Apapun hasilnya, final Wuhan Open 2025 akan menjadi ajang pembuktian dua generasi tenis putri Amerika — antara kedigdayaan pengalaman Jessica Pegula dan semangat muda Coco Gauff.
Editor : Rury Anjas Andita