LombokPost – Mantan petenis nomor satu dunia Novak Djokovic menunjukkan sikap sportif dan rendah hati setelah tersingkir di semifinal Rolex Shanghai Masters 2025. Alih-alih menyinggung soal masalah fisiknya, Djokovic memilih fokus memuji Valentin Vacherot, petenis asal Monaco yang menorehkan kisah ajaib di Shanghai.
“Saya ingin mengucapkan selamat kepada Valentin atas pencapaiannya mencapai final Masters pertamanya. Dari kualifikasi, ini kisah yang luar biasa. Saya katakan kepadanya di net bahwa dia menjalani turnamen yang luar biasa, tetapi yang lebih penting lagi adalah sikapnya yang sangat baik, dan permainannya juga luar biasa,” kata Novak Djokovic.
Kekalahan ini membuat Djokovic gagal menambah koleksi gelar ATP Masters 1000 ke-41 yang akan memecahkan rekor pribadinya. Meski demikian, sang juara empat kali Shanghai Masters tetap tampil elegan dan memuji Vacherot, petenis peringkat 204 dunia yang kini menjadi finalis dengan peringkat terendah dalam sejarah Masters 1000.
Djokovic Puji Lawannya
Selepas laga, Novak Djokovic dengan ramah menyalami Valentin Vacherot di net dan memberikan selamat langsung. Ia menolak berbicara soal kondisi fisiknya yang terlihat terganggu selama pertandingan.
“Ini semua tentang dia. Saya mendoakan yang terbaik untuknya di final, dan pemain yang lebih baik menang hari ini,” ujar Djokovic.
Selama Shanghai Masters 2025, Djokovic sempat menghadapi berbagai tantangan fisik. Di babak ketiga, melawan Yannick Hanfmann, ia terlihat muntah dan kelelahan akibat kelembapan tinggi. “Sama saja untuk semua pemain, tapi brutal,” ucapnya kala itu.
Meski kondisi tubuh tidak prima, Djokovic tetap menembus semifinal usai menumbangkan Zizou Bergs di perempat final dan Jaume Munar di babak 16 besar. Namun, melawan Valentin Vacherot, semua perjuangan itu berakhir.
Perjuangan Keras dan Sikap Sportif Djokovic
Pada laga semifinal, Novak Djokovic sempat terlihat menundukkan kepala ke dalam ember di tepi lapangan demi menenangkan diri. Di gim awal set kedua, ia berlutut kelelahan namun bangkit lagi untuk melanjutkan pertandingan.
Penonton di Rolex Shanghai Masters 2025 tetap memberikan dukungan luar biasa kepada sang legenda Serbia. Djokovic membalasnya dengan senyum dan bentuk hati dengan tangannya sebelum meninggalkan lapangan tengah — pemandangan yang membuat banyak penggemar terharu.
“Saya hanya berusaha untuk tetap hidup di lapangan. Saya senang bisa mengatasi rintangan ini,” katanya beberapa hari sebelumnya setelah mengatasi laga berat.
Valentin Vacherot Ukir Sejarah di Shanghai
Sementara Djokovic kalah di Shanghai Masters, lawannya Valentin Vacherot menorehkan sejarah besar. Ia menjadi finalis dengan peringkat terendah dalam sejarah ATP Masters 1000, bahkan setelah memulai dari babak kualifikasi.
Petenis berusia 26 tahun itu mengalahkan nama-nama besar seperti Holger Rune, Alexander Bublik, Tallon Griekspoor, dan akhirnya Novak Djokovic — menjadikannya kisah dongeng nyata di dunia tenis modern.
Djokovic Tetap Jadi Inspirasi
Meski gagal ke final, Novak Djokovic kembali menunjukkan mengapa ia tetap menjadi ikon sportivitas dunia tenis. Fokusnya bukan pada kekalahan, melainkan pada apresiasi terhadap petenis muda yang tengah bersinar.
Bagi Djokovic, Shanghai Masters 2025 bukan sekadar turnamen — melainkan panggung untuk menampilkan semangat persaingan yang sehat dan menghormati lawan, apa pun hasil akhirnya.
Editor : Rury Anjas Andita