LombokPost - Perkembangan olahraga mini soccer di Indonesia memasuki babak baru yang sangat signifikan.
Setelah bertahun-tahun menjadi fenomena olahraga komunitas di perkotaan, mini soccer kini mulai mendapat pengakuan resmi di tingkat nasional dan internasional, menunjukkan potensi besar sebagai cabang olahraga prestasi.
Puncak dari perkembangan organisasi ini terjadi pada September 2025. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat secara resmi menetapkan mini soccer sebagai salah satu anggota baru KONI.
Pengakuan ini memberikan landasan legal dan struktural bagi pengembangan olahraga tersebut di bawah naungan Komite Sepak Bola Mini Indonesia (KMSI) dan Federasi Sepakbola Mini Indonesia (FSMI).
”Saat rakernas KONI Pusat sudah disahkan secara resmi. Sekarang sedang didorong dibentuk ke provinsi. Dari NTB sudah ada yang ditunjuk menjadi caretaker,” ujar Ketua KONI NTB Mori Hanafi.
Mori menjelaskan perkembangan mini soccer di NTB sudah sangat masif. Olahraga ini banyak digandrungi dengan peserta dari segala usia. Tidak hanya milik anak muda saja.
”Untuk pembentukan KMSI di NTB, pak Andy Hadianto sudah ditunjuk sebagai caretaker. Nanti beliau yang akan merumuskan pembentukan organisasi dan calon pengurusnya,” jelasnya.
Menurut Mori, jika KMSI sudah terbentuk secara resmi di NTB maka tidak sulit mencari atlet.
Terlebih sarana permainan mini soccer kini sudah bermunculan.
Baca Juga: Inspektorat Audit Total Dana Hibah KONI NTB Rp 38 Miliar
”Sekarang saya lihat sudah banyak lapangan mini soccer. Tidak hanya di Mataram tapi di kabupaten/kota lain juga sudah ada,” tuturnya.
Lebih dari Sekadar Olahraga
Dosen Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) Mataram Lalu Hulfian, melihat “demam” mini soccer sebagai pergeseran paradigma olahraga di kalangan masyarakat Lombok. Menurutnya, mini soccer didominasi oleh para pekerja atau orang-orang yang sudah bekerja. ”Orang-orang ini memang membutuhkan hiburan,” ujar Hulfian.
Ia menjelaskan, daya tarik utama mini soccer terletak pada konsepnya yang mengedepankan aspek fun football. Ini terlihat dari tingginya partisipasi komunitas, seperti fans club sepak bola, yang memanfaatkan lapangan mini soccer untuk sekadar bersenang-senang dan mempererat tali silaturahmi.
“Jadi lebih cari fun nya aja. Senang-senang. Ketemu temen silaturrahim,” ucapnya yang juga sebagai penikmat mini soccer ini.
Bagi para pekerja, mini soccer menjadi pilihan untuk refresh atau menghilangkan stres setelah rutinitas harian yang padat. Mereka umumnya mengambil waktu di akhir pekan atau malam hari.
Hulfian menyebut, salah satu faktor pendorong lonjakan popularitas mini soccer adalah faktor sosial, yakni sebagai sarana silaturahmi. Namun, ada faktor lain yang dianggapnya dominan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman, yaitu keberadaan fotografer.
”Salah satu yang bisa membuat mini soccer ini menarik untuk para mereka itu salah satunya ada fotografer. Karena ada fotografer, ada tempat mereka melihat posting atau yang lainnya lah. Itu yang jadi pembeda,” tegasnya.
Hal ini berbeda dengan futsal yang rata-rata menggunakan jaring sehingga menyulitkan pengambilan foto yang bagus, atau lapangan besar sepak bola yang menuntut tenaga ekstra.
Mini soccer juga menciptakan ekosistem bisnis baru yang menjanjikan. Tingginya permintaan, terutama di malam hari, membuat para pebisnis melirik pembangunan lapangan mini soccer. Hulfian menyebut, biaya pembangunan mini soccer lebih murah dibandingkan futsal karena tidak memerlukan atap.
”Penghabisan untuk membuat fasilitas itu lebih murah, sewanya lebih mahal,” ungkapnya.
Meskipun lebih cocok sebagai sarana rekreatif, Hulfian tidak menutup kemungkinan mini soccer berkembang ke jalur prestasi karena kini sudah mulai ada wadah seperti liga mini soccer. Namun, ia meyakini mini soccer tidak hanya tren musiman.
”Kalau saya melihat sampai sekarang ini, itu sebenarnya tidak musiman. Karena kalau musiman, pasti di DCM Jalan Lingkar itu sudah sepi sekarang. Tapi tetap setiap malam kan terisi semua,” tandasnya.
Ciptakan Pesepakbola Profesional
Menjamurnya lapangan mini soccer membuat peluang untuk belajar bermain sepak bola kian luas.
Apalagi di wilayah perkotaan, akses untuk bisa menikmati bermain sepak bola di lapangan sangat terbatas.
”Peminat sepak bola di wilayah Mataram cukup banyak. Masing-masing kampung memiliki klub sepak bola. Namun, tidak semua bisa mengakses untuk melakukan latihan,” kata pelatih sepak bola Ahmad Rosidi.
Asisten pelatih U-15 PS Mataram itu mengatakan, untuk bisa menjadi pesepakbola perlu latihan rutin. Tidak ada yang serba instan.
”Mulai dari pembentukan fisik dan teknik bermain bola. Semua melalui proses yang panjang,” kata dia.
Sampai saat ini, pihaknya juga masih melakukan pembinaan terhadap usia dini. Nama klubnya Lombok Smile FC. ”Kami membina anak usia dini agar bisa bermain sepak bola,” kata dia.
Namun, jika dilihat dari penggunaan mini soccer di wilayah Mataram belum seluruhnya dijadikan sebagai tempat pembinaan.
Kebanyakan pendiri Sekolah Sepak Bola (SSB) di wilayah Mataram ini menyewa lapangan sepak bola yang standar.
Dia menilai sebagian besar pemilik mini soccer belum mengarahkan pada proses pembinaan. Jika itu tidak dijalankan, tidak bisa langsung berdampak besar terhadap perubahan pembinaan sepak bola di NTB.
”Kalau segi positif ada dampak pembinaan. Tetapi, dari segi negatif pembinaan bisa terabaikan jika pengelola hanya berorientasi pada bisnis tanpa diiringi program pembinaan yang terarah,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, permainan di lapangan mini soccer yang lebih kecil dan intens membantu pemain mengasah keterampilan dasar seperti mengoper, menendang, serta mengendalikan bola.
Kondisi itu sekaligus mendorong terbentuknya atmosfer kompetitif yang sehat melalui berbagai turnamen komunitas.
Selain menjadi wadah interaksi dan olahraga masyarakat, Rosidi menilai fenomena ini juga membuka peluang besar bagi pembentukan talent pool baru.
“Semakin banyak yang bermain, semakin besar pula peluang menemukan bakat-bakat muda potensial dari berbagai lapisan,” jelasnya.
Namun, ia menekankan, tanpa adanya pembinaan berkelanjutan, manfaat tersebut tidak akan maksimal.
“Lapangan boleh banyak, tapi kalau tidak ada program yang menyalurkan dan membina pemain muda secara serius, ya tetap akan jalan di tempat,” tegas Rosidi.
Ia berharap sinergi antara pengelola lapangan, pelatih, dan asosiasi sepak bola daerah dapat terwujud agar mini soccer benar-benar menjadi pintu awal pembinaan sepak bola berkelanjutan.
”Kalau koordinasi kuat untuk meningkatkan fasilitas latihan bisa berdampak besar untuk menciptakan pesepakbola profesional,” kata mantan pemain PS Mataram itu. (puj/chi/arl/r3)
Editor : Kimda Farida