Mantan penerjemah Shin Tae‑yong, Jeong Seok‑seo atau yang akrab disapa “Jeje”, mengungkap alasan utama mengapa Baggott tidak lagi dipanggil ke Timnas Indonesia.
Menurut Jeje, keputusan pelatih asal Korea Selatan itu sangat dipengaruhi oleh persepsi bahwa Elkan menunjukkan sikap kurang nasionalis dan dinilai bisa menghancurkan kekompakan Timnas Indonesia.
Kata kunci Elkan Baggott, Timnas Indonesia, dan kurang nasionalis muncul berulang‑ulang di paragraf awal untuk memperkuat optimasi.
Jeje membeberkan bahwa satu momen krusial menjadi pemicu: ketika Baggott menolak panggilan memperkuat Timnas Indonesia U‑23 dalam laga playoff Olimpiade Paris 2024 melawan Guinea, padahal pada saat itu Timnas tengah sangat membutuhkan kekuatan lini belakang.
“Itu rahasia umum sebenarnya… Coach Shin melihat tidak ada nasionalisme dari dia,” ujar Jeje dalam podcast di kanal YouTube Ruang Publik.
Ia juga menegaskan bahwa Shin Tae‑yong tak mau mengambil risiko mempertahankan pemain yang dianggap tak sepenuh hati membela Garuda, karena situasi seperti itu bisa memicu keretakan dalam kekompakan Timnas Indonesia.
Kata kunci kekompakan Timnas Indonesia dan alasan Elkan tak dipanggil kembali muncul di bagian tengah narasi untuk menjaga alur dan optimasi SEO.
Baca Juga: Jay Idzes Tunjukkan Mental Pemain Kelas Dunia Saat Pertandingan Melawan Irak
Sebelumnya, berbagai pernyataan resmi dari pundit dan Eksco PSSI hanya menyebut bahwa Baggott memilih fokus ke klubnya, dan bukan secara terbuka menyoroti soal nasionalisme ataupun kekompakan tim.
Namun Jeje menegaskan bahwa penyebab sebenarnya lebih mendalam dan telah lama menjadi pembicaraan internal. Menurutnya, dalam struktur tim besar seperti Timnas Indonesia, seorang pemain yang menunjukkan ketidakpastian dalam komitmen bisa menjadi beban besar, bukan hanya bagi pelatih, tapi bagi seluruh skuad.
Dalam konteks ini, kata kunci pemain nasionalis Indonesia dan Timnas Indonesia konflik muncul kembali sebagai penguat narasi akhir.
Kini, publik dan media terus menunggu respons dari pihak Baggott, dari Shin Tae‑yong ataupun dari badan pengurus sepak bola nasional.
Apakah Baggott akan angkat bicara? Dan apakah Timnas Indonesia akan membuka jalan bagi comeback atau sudah putuskan melangkah tanpa dirinya?
Yang pasti, wacana ini kembali mengingatkan bahwa di balik sorak sorai penampilan, yang terpenting dalam tim nasional bukan hanya kemampuan individu, tetapi nasionalisme dan kekompakan Timnas Indonesia lah yang menjadi fondasi utama.
Editor : Siti Aeny Maryam