LombokPost - Siapa bilang lari cepat cuma untuk atlet elit? Mantan pelari perguruan tinggi asal UNC Asheville, Ashley Tysiac, membuktikan bahwa siapa pun bisa menemukan “mode cepat” mereka sendiri.
Bahkan, ia menyebut sensasi berlari kencang bisa membuat orang jatuh cinta pada olahraga ini.
Ashley, yang kini menjadi Editor Content Hype di Hearst’s Enthusiast & Wellness Group, mengaku memulai lari tanpa ambisi besar.
“Awalnya saya hanya ingin tetap bugar untuk basket,” katanya dikutip dari runnersworld.com.
Namun semuanya berubah ketika ia merasakan dorongan adrenalin saat mulai berlari kencang di track.
Dari sekadar iseng menjaga kebugaran, Ashley justru terpacu mengejar catatan waktu lebih cepat di setiap latihan dan lomba.
Konsistensi latihan kecepatan membuatnya berubah dari pelari biasa menjadi salah satu atlet SMA tercepat di negara bagiannya.
“Di titik itu, basket tak lagi menarik. Saya memilih lari sepenuhnya,” ujarnya.
Untuk membantu pelari lain menemukan kecepatan terbaik, Ashley kini memperkenalkan program terbaru bertajuk How to Run Faster.
Program ini dirancang untuk semua level pelari—baik pemula, remaja, hingga pelari berpengalaman yang ingin memperbaiki pace.
Dipandu pelatih lari bersertifikat Matt Meyer, peserta akan memperoleh berbagai panduan mulai dari latihan kecepatan, teknik lari, strategi pacing, hingga latihan kekuatan yang mendukung performa.
Program ini juga membahas elemen penting lain seperti pemilihan perlengkapan dan manfaat latihan zone 2.
“Berlari lebih cepat bukan hanya soal tenaga. Ada strategi, teknik, dan pemahaman tubuh,” ujar Meyer dalam program tersebut.
Runner yang telah menyelesaikan program ini didorong untuk menguji peningkatan performanya lewat lomba lari, disertai rencana latihan yang dapat disesuaikan dengan jarak dan target waktu.
Editor : Marthadi