Kerusakan pada ligamen krusial itu bisa membuat sprinter sekelas juara dunia junior sekalipun kehilangan stabilitas, kecepatan, bahkan karier jika tak ditangani tepat.
Cedera yang diderita sprinter andalan Indonesia Lalu Muhammad Zohri kembali menjadi sorotan setelah membatasi penampilannya di SEA Games 2025.
Cedera pada ligamen utama di lutut itu membuat Zohri hanya turun di nomor 100 meter dan menghindari 200 meter yang memiliki tikungan berisiko.
ACL terletak di bagian tengah lutut dan menghubungkan tulang paha (femur) dengan tulang kering (tibia). Fungsinya sangat vital: menjaga stabilitas lutut saat bergerak maju-mundur maupun berputar.
Cedera pada bagian ini biasanya terjadi karena perubahan arah mendadak, berhenti tiba-tiba, lompatan, atau benturan keras.
Gejalanya pun tidak main-main. Penderitanya biasanya merasakan bunyi letupan (“pop”), nyeri tajam, pembengkakan cepat, hingga sensasi lutut goyah atau tidak stabil.
Dalam kondisi tertentu, lutut sulit ditekuk atau diluruskan, bahkan memunculkan memar di sekitarnya.
Dampaknya sangat terasa pada Zohri. Cedera ACL yang ia alami membuat porsi latihannya berkurang secara signifikan.
Itu pula yang membuatnya berhati-hati dan memilih fokus di nomor 100 meter demi mencegah risiko kambuh.
“Ada sedikit kendala di lutut kiri saya, itu ACL,” ujarnya usai meraih perak 100 meter putra.
Penanganan cedera ACL tergantung tingkat keparahan. Untuk kondisi ringan, penanganan cukup dengan istirahat, kompres, penggunaan penyangga lutut, dan fisioterapi. Namun pada kasus berat atau robekan total, operasi rekonstruksi ACL dan rehabilitasi jangka panjang menjadi pilihan utama.
Cedera ini menjadi momok besar bagi atlet lari cepat seperti Zohri. Selain mengganggu gerak eksplosif, kondisi lutut yang tidak stabil dapat menghambat akselerasi dan mengurangi kepercayaan diri saat sprint—dua faktor penting dalam nomor paling bergengsi di atletik tersebut.
Editor : Marthadi