Kepergiannya menjadi pukulan telak bagi keluarga besar Singo Edan, sekaligus kehilangan besar bagi sepak bola Indonesia.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, Kuncoro wafat setelah kolaps di pinggir lapangan. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis, namun nyawanya tidak tertolong.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi Arema FC, tetapi juga komunitas sepak bola nasional.
Sosok Kuncoro dikenal sebagai figur yang rendah hati, pekerja keras, dan sangat loyal. Ia merupakan salah satu legenda hidup Arema FC yang mendedikasikan hampir seluruh perjalanan kariernya untuk klub asal Malang tersebut. Sejak 2011, Kuncoro setia mengabdi dalam berbagai peran di jajaran kepelatihan.
Berdasarkan data Transfermarkt, Kuncoro lahir di Malang pada 7 Maret 1973 dan wafat pada usia 52 tahun. Ia mengantongi Lisensi Kepelatihan A Nasional dan dikenal memiliki filosofi permainan disiplin dengan formasi 4-3-3 bertahan.
Perjalanan kepelatihannya dimulai sebagai pelatih fisik sebelum kemudian dipercaya menjadi asisten pelatih utama. Dalam peran tersebut, Kuncoro menjadi figur penting di tengah dinamika pergantian pelatih kepala yang kerap terjadi di tubuh Arema FC. Ia tercatat mendampingi banyak pelatih ternama, mulai dari Rahmad Darmawan, Milomir Seslija, hingga Joel Cornelli.
Kepercayaan manajemen Arema FC terhadap Kuncoro terlihat dari perannya sebagai pelatih interim di berbagai periode krusial.
Terbaru, ia dipercaya memimpin tim sementara pada musim 2024/2025, tepatnya Desember 2024 hingga Januari 2025. Dalam periode singkat tersebut, Kuncoro mencatatkan rata-rata 3,00 poin per pertandingan dari dua laga.
Sebelumnya, ia juga pernah menjalankan tugas serupa pada musim 2023/2024 dan 2020/2021. Kapasitasnya dalam menjaga stabilitas tim di tengah tekanan menjadi alasan utama mengapa ia selalu menjadi solusi darurat ketika Arema FC kehilangan pelatih kepala.
Di ruang ganti, Kuncoro dikenal dekat dengan para pemain. Pendekatan humanis dan ketenangannya membuat ia dihormati, baik oleh pemain muda maupun senior. Ia juga sempat kembali dipercaya sebagai pelatih fisik pada musim 2022/2023, menunjukkan fleksibilitas dan komitmennya terhadap kebutuhan tim.
Bagi Aremania, Kuncoro bukan sekadar bagian dari staf pelatih. Ia adalah simbol loyalitas, pengabdian tanpa pamrih, dan kecintaan tulus terhadap Arema FC. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan.
Hingga kini, suasana haru masih menyelimuti keluarga besar Arema FC. Nama Kuncoro akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan panjang Singo Edan.
Editor : Marthadi