Terungkap, Laporta Jadi Presiden Barca Berkat Bantuan Florentino Pérez
Ivan Mardiansyah• Rabu, 21 Januari 2026 | 21:05 WIB
Terungkap, Joan Laporta bisa kembali menjadi presiden Barcelona pada 2021 berkat bantuan Florentino Pérez dalam urusan jaminan bank.
Lombok Post — Sebuah fakta lama kembali mencuat dan mengubah cara pandang banyak pihak terhadap dinamika kekuasaan di sepak bola Spanyol.
Joan Laporta, yang kini menjabat sebagai presiden Barcelona, disebut bisa kembali ke kursi tertinggi klub Catalan itu berkat bantuan langsung dari rival abadinya, Florentino Pérez, presiden Real Madrid.
Kisah ini bermula pada pemilihan presiden Barcelona tahun 2021. Saat itu, Joan Laporta diwajibkan menyetor jaminan sebesar €124,6 juta ke rekening klub, sebuah syarat hukum yang harus dipenuhi sebelum resmi menjabat.
Masalahnya, kondisi finansial Barcelona tengah berada di titik terburuk, dan Laporta disebut tidak memiliki dana tersebut dalam waktu singkat.
Di sinilah nama Florentino Pérez muncul. Menurut berbagai laporan media Spanyol, Pérez secara pribadi menghubungi Bank Sabadell untuk membantu meloloskan jaminan yang dibutuhkan Laporta.
Awalnya, pihak bank menolak mentah-mentah permohonan tersebut karena kondisi keuangan Barcelona dinilai sangat berisiko dan tidak menjanjikan jaminan pengembalian yang aman.
Namun Pérez tak berhenti di situ. Ia disebut terus mendesak dan menggunakan pengaruh serta kredibilitasnya sebagai figur kuat di sepak bola dan dunia bisnis Spanyol. Tekanan tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Bank Sabadell menyetujui pencairan jaminan, keputusan krusial yang membuka jalan bagi Joan Laporta untuk kembali menjadi presiden Barcelona.
Motif di balik bantuan ini tak kalah mengejutkan. Florentino Pérez diyakini melihat Laporta sebagai sekutu strategis untuk mendukung proyek ambisius European Super League, yang saat itu menjadi prioritas besar presiden Real Madrid.
Dengan Laporta memimpin Barcelona, Pérez berharap dua raksasa Spanyol itu berdiri di garis yang sama dalam proyek tersebut.
Ironisnya, sejarah kemudian berbelok. Barcelona di bawah kepemimpinan Joan Laporta akhirnya memutuskan keluar dari European Super League, sebuah langkah yang bertentangan langsung dengan harapan Florentino Pérez.
Hubungan yang semula dibangun atas dasar kepentingan strategis pun berubah menjadi kontradiksi besar dalam politik sepak bola Spanyol.
Fakta ini menegaskan bahwa rivalitas Barcelona dan Real Madrid tidak selalu hitam-putih. Di balik panasnya El Clasico, ada manuver, kepentingan, dan kompromi yang jarang terlihat publik.
Bantuan Florentino Pérez yang memungkinkan Joan Laporta berkuasa justru berujung pada keputusan yang berseberangan, menjadikan kisah ini salah satu episode paling paradoks dalam sejarah modern sepak bola Spanyol.