LombokPost- Hubungan antara Presiden FC Barcelona, Joan Laporta, dengan mantan pelatih sekaligus legenda hidup klub, Xavi Hernandez, dilaporkan semakin memburuk. Ketegangan yang telah lama terpendam ini kini mencapai titik nadir, di mana banyak pihak meyakini bahwa rekonsiliasi antara kedua tokoh sentral Blaugrana tersebut hampir mustahil terwujud dalam waktu dekat.
Benih keretakan ini sebenarnya sudah mulai terendus publik sejak pemecatan kontroversial Xavi pada tahun 2024 lalu. Namun, situasi semakin memanas setelah Xavi secara terbuka menunjukkan kedekatannya dengan rival politik Laporta, yaitu Víctor Font. Kehadiran Xavi dalam acara peluncuran kampanye Font menjelang pemilihan presiden klub seolah menjadi penanda tegas bahwa sang maestro lini tengah kini berada di pihak oposisi.
Joan Laporta sendiri tampak tidak terkejut dengan manuver yang dilakukan mantan pelatihnya tersebut. Dalam sebuah wawancara terbaru, Laporta secara diplomatis menyatakan bahwa hubungan antara Xavi dan Font memang sudah terjalin lama. Baginya, langkah Xavi yang memilih mendukung pihak lawan bukanlah sesuatu yang mengherankan, mengingat kedekatan personal di antara mereka sejak lama.
Baca Juga: Antoine Griezmann Buka-bukaan soal Penyesalan Tinggalkan Atletico Madrid demi Barcelona
Di balik drama politik tersebut, konflik personal antara keduanya juga sempat mencuat ke permukaan. Xavi secara vokal mulai mengkritik berbagai keputusan internal manajemen klub di bawah kendali Laporta. Salah satu poin yang paling menyakitkan bagi pendukung Barcelona adalah kegagalan klub untuk memulangkan sang megabintang, Lionel Messi, ke Camp Nou beberapa waktu lalu.
Xavi bahkan sempat melontarkan tudingan bahwa keputusan-keputusan strategis yang merugikan klub seringkali datang langsung dari lingkaran dalam presiden. Pernyataan-pernyataan saling sindir di berbagai media Spanyol ini pun semakin mempertegas bahwa kepercayaan (trust) antara sang presiden dan mantan pelatih tersebut sudah benar-benar hancur dan sulit dipulihkan.
Situasi di Camp Nou kini pun dibayangi oleh perpecahan opini di kalangan penggemar. Sebagian masih setia mendukung kepemimpinan Laporta dalam menstabilkan ekonomi klub, sementara sebagian lainnya menyayangkan perlakuan manajemen terhadap legenda sebesar Xavi Hernandez. Luka lama ini tampaknya akan terus menjadi bahan diskusi panas seiring dengan bergulirnya dinamika politik di internal raksasa Catalan tersebut.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin