Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melingkar Menuju Masa Depan: Sebuah Refleksi Memilih Sekolah Menengah

R
Penulis: Redaksi❯
Ahmad Gazi Paedullah, S.Pd.,M.T/Praktisi pendidikan, ASN pendidik, dan Ketua Program Keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) di SMKN 3 Mataram, NTB. (IST)
Ahmad Gazi Paedullah, S.Pd.,M.T/Praktisi pendidikan, ASN pendidik, dan Ketua Program Keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) di SMKN 3 Mataram, NTB. (IST)

Advertisement

LombokPost - Di sebuah teras rumah yang teduh, seorang remaja duduk termenung menatap layar gawai. Di sekelilingnya, tiga orang sahabatnya berbicara riuh tentang seragam baru, gedung sekolah favorit di pusat kota, dan janji untuk tetap bersama setelah lulus SMP. Dari balik jendela, sang ibu memperhatikan sambil memegang secangkir kopi yang mulai mendingin. Di kepalanya berputar banyak hal: tagihan bulanan, biaya pendidikan, dan satu pertanyaan yang tidak pernah sederhana ke mana sebaiknya anaknya melangkah setelah SMP?

Percakapan yang tampak biasa itu sesungguhnya sedang menentukan arah masa depan. Tidak sedikit keputusan memilih sekolah menengah lahir dari ruang emosional bernama kelompok pertemanan. Anak-anak memilih bukan karena telah memahami bakat dan cita-citanya, melainkan karena takut melangkah sendirian. Pada usia remaja, perpisahan sering kali terasa lebih menakutkan daripada kemungkinan salah memilih jalan.

Padahal, kelulusan SMP adalah titik ketika setiap orang mulai memegang kemudi hidupnya sendiri. Persahabatan sejati tidak pernah ditentukan oleh kesamaan seragam atau ruang kelas, melainkan oleh kemampuan untuk tetap saling mendukung ketika jalan hidup mulai bercabang.

Fenomena tersebut berulang di banyak ruang bimbingan konseling. Pernah ada kisah lima sekawan yang bersepakat masuk program keahlian Tata Boga di sebuah SMK. Alasannya sederhana: sang ketua kelompok bercita-cita menjadi koki. Demi menjaga kebersamaan, empat sahabat lainnya ikut mendaftar. Namun belum genap satu semester, mereka mulai menyadari bahwa dunia dapur bukanlah ruang yang mereka inginkan. Solidaritas yang tampak mulia ternyata tidak selalu menghasilkan keputusan yang bijaksana.

Namun persoalan sesungguhnya tidak berhenti pada pengaruh teman sebaya. Di ruang tengah setiap rumah, pergulatan yang lebih sunyi juga berlangsung. Sebagian anak menginginkan SMA karena pertimbangan gengsi atau gambaran masa remaja yang mereka lihat di media sosial. Sementara orang tua yang bergulat dengan keterbatasan ekonomi berharap anaknya memilih SMK agar memiliki keterampilan dan peluang kerja lebih cepat.

Advertisement

Sebaliknya, tidak sedikit pula anak yang sebenarnya memiliki kecenderungan akademik kuat justru diarahkan masuk SMK semata-mata karena alasan praktis, sementara di dalam dirinya tetap tumbuh harapan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pada titik inilah kita sering terjebak pada perdebatan yang keliru: seolah-olah SMA lebih unggul daripada SMK, atau sebaliknya. Padahal, keduanya tidak pernah diciptakan untuk saling mengalahkan. Keduanya hadir untuk menjawab kebutuhan, potensi, dan cita-cita yang berbeda.

Pilihan pendidikan tidak seharusnya ditentukan oleh gengsi, tekanan kelompok, ataupun kecemasan ekonomi semata. Memilih SMA atau SMK pada dasarnya adalah menemukan titik temu antara minat anak, kemampuan keluarga, serta peluang masa depan yang ingin dibangun bersama.

Beruntungnya, sistem pendidikan nasional saat ini memberikan ruang yang semakin terbuka. Lulusan SMK memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan tinggi, sementara berbagai program afirmasi pemerintah menjadi penyangga agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan bagi anak-anak untuk berhenti bermimpi.

Karena itu, orang tua dan siswa perlu memahami regulasi yang berlaku. Berdasarkan Petunjuk Teknis Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun Pelajaran 2026/2027, mekanisme penerimaan telah dirancang untuk mengakomodasi keragaman potensi peserta didik.

Advertisement
Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

AMMAN Buka Beasiswa SMK Unggulan 2026, Gratis Sekolah hingga Sertifikasi Internasional

AMMAN Buka Beasiswa SMK Unggulan 2026, Gratis Sekolah hingga Sertifikasi Internasional

AMMAN buka Beasiswa SMK Unggulan 2026 bagi siswa KSB dan Sumbawa. Gratis sekolah, biaya hidup hingga sertifikasi profesi.

311 Lulusan SMKN 1 Mataram Lulus 100 Persen, Banyak Direkrut Industri Sebelum Wisuda

311 Lulusan SMKN 1 Mataram Lulus 100 Persen, Banyak Direkrut Industri Sebelum Wisuda

Sebanyak 311 lulusan SMKN 1 Mataram lulus 100 persen, banyak siswa langsung direkrut industri sebelum wisuda.

Fraksi PKB Minta SPP di SMA/SMK Negeri Dihapus

Fraksi PKB Minta SPP di SMA/SMK Negeri Dihapus

Fraksi PKB DPRD NTB mendesak pemprov untuk menghapus praktik sumbangan dana pendidikan dari masyarakat di lembaga pendidikan SMA/SMK negeri.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer