LombokPost - Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 di kawasan The Mandalika memberi dampak luas. Tidak hanya bagi pelaku usaha kecil dan tenaga kerja lokal, tetapi juga terhadap perekonomian nasional.
Studi yang disusun Lembaga Teknologi Manajemen Industri ITB mencatat total dampak ekonomi nasional dari penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 mencapai Rp 4,96 triliun. Nilai itu mencerminkan perputaran ekonomi dari berbagai sektor, mulai dari pariwisata, transportasi, akomodasi, hingga industri kreatif.
Di tingkat lokal, event balap dunia ini melibatkan lebih dari 600 pelaku UMKM serta menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja, dengan sekitar 67 persen berasal dari Lombok Tengah.
Kehadiran lebih dari 140 ribu penonton di Sirkuit Internasional Mandalika selama event berlangsung mendorong lonjakan permintaan terhadap produk dan jasa lokal. Pelaku UMKM di sektor kuliner, kerajinan, hingga jasa transportasi merasakan langsung peningkatan omzet.
Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026 Dipastikan Aman dari Imbas Konflik Global
Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 sekaligus Direktur Operasi InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) Troy Warokka menyatakan bahwa pengembangan Mandalika diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi yang merata, baik di tingkat lokal maupun nasional.
”Event internasional di Mandalika dirancang untuk menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi, sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (1/4).
Selain mendorong konsumsi langsung selama event, MotoGP juga memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi sport tourism di mata dunia. Dampak ini dinilai memiliki efek berganda yang melampaui biaya penyelenggaraan, karena memicu kunjungan wisata, investasi, serta promosi destinasi secara global.
Baca Juga: Nyaris Podium! Ai Ogura Gagal Finis di MotoGP Amerika Serikat 2026, Trackhouse Bongkar Masalah Mesin
Ke depan, pengelola kawasan bersama pemerintah pusat dan daerah akan terus memastikan keterlibatan UMKM dan tenaga kerja lokal dalam setiap penyelenggaraan event internasional di Mandalika, agar manfaat ekonomi yang tercipta tidak hanya bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Tidak hanya MotoGP, Sirkuit Internasional Mandalika juga menegaskan kesiapannya dalam penyelenggaraan GT World Challenge Asia 2026 yang akan digelar pada 1–3 Mei 2026. Tidak hanya dari sisi infrastruktur, kesiapan tercermin dari kualitas SDM lokal yang semakin profesional dan kompeten.
”Sebanyak 200 marshal yang seluruhnya berasal dari NTB akan mengambil peran penting dalam mendukung operasional balapan,” kata Direktur Utama Mandalika Grand Prox Associations (MGPA) Priandhi Satria.
Mereka terdiri dari berbagai fungsi strategis, mulai dari Marshal Pitlane sebanyak 45 orang, Marshal Track sebanyak 95 orang, Marshal Track Maintenance sebanyak 10 orang, Chief Marshal sebanyak 8 orang, Pick Up Bike Marshal sebanyak 8 orang, Tim Recovery Marshal sebanyak 23 orang, serta Marshal Cadangan (reserve) yang secara keseluruhan memastikan setiap aspek balapan berjalan aman, tertib, dan sesuai standar internasional.
Peran marshal menjadi salah satu elemen paling vital dalam penyelenggaraan motorsport. Mulai dari pengawasan lintasan, penanganan insiden, hingga menjaga keselamatan pembalap dan kru, seluruhnya membutuhkan ketelitian, kecepatan respons, serta koordinasi yang tinggi.
Menurutnya, keterlibatan penuh marshal lokal ini menjadi bukti nyata kesiapan SDM Indonesia dalam mendukung event motorsport kelas dunia. Keikutsertaan 200 marshal lokal NTB dalam GTWCA 2026 menegaskan bahwa Sirkuit Mandalika tidak hanya siap sebagai tuan rumah dari sisi fasilitas, tetapi juga didukung sumber daya manusia yang kompeten, terlatih, dan berpengalaman dalam memenuhi standar keselamatan serta operasional balap internasional.
”Seluruh marshal telah melalui proses rekrutmen, pelatihan, dan keterlibatan di berbagai event sebelumnya, sehingga mampu menjalankan peran krusial secara profesional,” ujarnya.
Priandhi menekankan keterlibatan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun ekosistem motorsport nasional yang berkelanjutan. ”MGPA ingin Sirkuit Mandalika tidak hanya dikenal sebagai venue balap kelas dunia, tetapi juga sebagai pusat pengembangan SDM motorsport yang berdaya saing global,” tambah dia.
Baca Juga: MGPA Tutup Sementara Sirkuit Internasional Mandalika saat Idulfitri
Keterlibatan marshal lokal secara penuh dalam ajang internasional ini menjadi cerminan peningkatan kapasitas dan profesionalisme SDM daerah. Dengan sistem kerja yang terstruktur dan berbasis standar internasional, para marshal tidak hanya memastikan kelancaran jalannya balapan, tetapi juga memperkuat posisi Sirkuit Mandalika di kawasan The Mandalika sebagai salah satu destinasi unggulan motorsport kelas dunia.
”Ajang GT World Challenge Asia 2026 pun diharapkan tidak hanya menghadirkan kompetisi balap berkelas, tetapi juga meninggalkan legacy dalam bentuk peningkatan kualitas SDM lokal yang mampu bersaing di tingkat internasional,” tutup Priandhi.
Editor : Pujo Nugroho