LombokPost – Manajer Arsenal, Mikel Arteta, kembali menjadi sorotan media dalam sesi konferensi pers jelang laga krusial melawan Southampton. Salah satu topik panas yang mencuat adalah mengenai kondisi fisik para penggawa Meriam London pasca jeda internasional.
Mikel Arteta menegaskan bahwa keputusan menarik pemain dari tugas negara bukanlah perkara ego klub, melainkan murni berdasarkan rekomendasi tim medis yang sangat ketat demi menjaga kebugaran pemain di tengah jadwal yang padat.
Terkait komunikasi dengan tim nasional, Mikel Arteta mengungkapkan bahwa Arsenal menjalin hubungan yang sangat harmonis dengan para pelatih timnas, termasuk Thomas Tuchel. Menurut Mikel Arteta, pihak klub selalu mengedepankan kejujuran dalam melaporkan status kebugaran pemain.
Conclussion medis menjadi dasar utama apakah seorang pemain tetap bertahan di timnas atau harus pulang lebih awal ke London Colney. Mikel Arteta memastikan bahwa transparansi medis ini penting agar tidak ada kesalahpahaman antara klub dan federasi.
Baca Juga: Arsenal Tikung MU dan Newcastle! Demi Ederson, Mikel Arteta Siap Kucurkan Rp 800 Miliar
Di sisi lain, Mikel Arteta juga menyinggung kebanggaannya melihat banyak pemain Arsenal yang dipanggil memperkuat negara masing-masing. Baginya, keinginan pemain untuk membela tim nasional adalah hal yang sangat positif dan didukung penuh oleh klub.
Namun, Mikel Arteta memberikan catatan bahwa saat seorang pemain fit, mereka wajib bermain, tetapi jika kondisi fisik meragukan, kesehatan jangka panjang sang pemain adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar oleh Mikel Arteta dan staf kepelatihannyMenariknya, saat ditanya mengenai siapa saja pemain yang dipastikan absen melawan Southampton, Mikel Arteta justru memilih untuk bersikap misterius. Sambil berseloroh, Mikel Arteta membiarkan media terus berspekulasi mengenai daftar cedera timnya.
"Saya akan membiarkan spekulasi ini berlanjut, jadi Anda bisa menilainya nanti apakah yang saya katakan benar atau Anda harus menghapus dan menulis sesuatu yang lain," ujar Mikel Arteta.
Editor : Pujo Nugroho