LombokPost – Aksi provokatif bintang PSV Eindhoven, Ryan Flamingo, yang menyanyikan lagu tentang "Yahudi melompat" saat perayaan gelar juara baru-baru ini berbuntut panjang. Tanpa disadari, nyanyian tersebut justru melukai sejarah kelam klubnya sendiri yang kehilangan banyak anggota keturunan Yahudi akibat kekejaman Holocaust di kamp konsentrasi Auschwitz.
Dikutip dari laman Sportgeschiedenis, perilaku Flamingo tersebut dinilai sebagai bentuk ketidaktahuan yang fatal terhadap identitas PSV sebagai "klub rakyat" (volksclub) yang inklusif.
Sejarah mencatat, PSV bukan sekadar klub sepak bola, melainkan wadah bagi para pekerja Philips dari berbagai latar belakang keyakinan, yang membuatnya sangat berbeda dari klub-klub Katolik tradisional di wilayah Brabant Utara.
Jejak Berdarah di Auschwitz
Sejarah mencatat sedikitnya ada 17 anggota PSV yang tewas selama Perang Dunia II, termasuk mereka yang menjadi korban pembantaian Nazi. Berikut adalah beberapa nama anggota keluarga besar PSV yang nyawanya terenggut di Auschwitz, yang ironisnya kini "dihina" melalui nyanyian Flamingo:
- Salomon Hertzberger: Pemain tim utama PSV periode 1921-1927 sekaligus atlet atletik. Ia dibunuh di Auschwitz pada 28 Februari 1943.
- Ignacz Klein: Mantan pelatih kepala PSV (musim 1927-1928), pemijat, dan pelatih kebugaran. Ia dibantai di Auschwitz pada 31 Januari 1943.
- Mör Klein: Anggota tim muda PSV yang juga merupakan putra dari Ignacz Klein. Ia tewas bersama ayahnya pada hari yang sama di Auschwitz.
- Alexander Rijskind: Anggota klub yang merupakan pengungsi Yahudi dari Uni Soviet. Ia juga menjadi korban di Auschwitz pada awal 1943.
- Emanuel Wijzenbeek: Pemain PSV sekaligus karyawan Philips yang aktif dalam gerakan perlawanan terhadap Nazi. Ia dibunuh pada 15 Mei 1944.
Pelajaran Berharga bagi Flamingo
Publik kini diingatkan kembali bahwa kebencian terhadap identitas tertentu, meski dibalut dalam lagu ejekan untuk rival (seperti Ajax), sangat tidak relevan dengan sejarah PSV. Hingga saat ini, penelitian masih terus dilakukan untuk mengungkap nama-nama korban lainnya yang belum tercatat di monumen KNVB.
Ryan Flamingo pun kini "disentil" untuk belajar lebih dalam tentang sejarah klubnya di "kelas remedial" kehidupan, agar di masa depan ia berpikir dua kali sebelum menyanyikan lagu yang merendahkan martabat manusia. Sebab, di balik kejayaan PSV hari ini, ada tetesan darah dan air mata para anggotanya yang menjadi korban genosida.
Editor : Marthadi