LombokPost - Dalam otobiografinya, Zlatan Ibrahimovic menggambarkan warga Swedia sebagai “orang-orang yang tidak akan pernah menerobos lampu merah”.
Tidak pernah menonjolkan diri, tidak pernah menganggap diri mereka spesial.
Bagi Ibrahimovic yang sangat percaya diri, sangat berani berpendapat, konsep sosial di Swedia dan segenap Skandinavia yang dikenal sebagai Janteloven atau Jantelagen itu sangat aneh.
Baca Juga: Koramil Jonggat Bawa Piala Dunia ke Kampung
“Saya 11 kali terpilih sebagai pesepak bola terbaik Swedia. Apakah saya sombong? Tak masalah, saya memang yang terbaik,” kata pencetak gol terbanyak bagi tim nasional (timnas) Swedia itu.
Ibrahimovic, barangkali, adalah kasus khusus. Janteloven atau Jantelagen dalam bahasa Swedia masih kuat membentuk kepribadian warga negeri yang beribu kota di Stockholm tersebut.
Tak terkecuali di sepak bola. Di skuad Swedia di Piala Dunia memang ada Viktor Gyokeres yang baru merebut gelar Premier League dan Aleksander Isak yang dibeli Liverpool dengan harga sangat mahal.
Baca Juga: Lima Tim yang Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Namun, tetap saja kekuatan utama Blågult atau Biru-Kuning adalah kolektivitas.
Kebetulan, Graham Potter, pelatih Swedia, juga lebih mengandalkan kolektivitas.
Maklum, Potter memulai karier kepelatihannya di negeri penghasil Volvo tersebut.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Hadapi Swiss, Kanada Bidik Juara Grup
“Dia menyatukan kami semua,” kata bek tengah Blågult julukan timnas Swedia Gustaf Lagerbielke, seperti dilansir dari laman Sportbladet.
Kolektivitas vs Kolektivitas
Besok (26/6) pagi WIB, memperebutkan tiket lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 dari Grup F, kolektivitas khas Skandinavia itu akan berhadapan dengan kolektivitas ala Jepang di AT&T Stadium, Arlington, Amerika Serikat. Ya, kesetaraan ala Janteloven juga ada di Negeri Samurai yang terangkum dalam peribahasa: Deru kugi wa utareru alias paku yang menonjol sendirian akan dipalu.
Enam gol Jepang yang dicetak empat pemain berbeda juga mencerminkan bagaimana di skuad Samurai Biru semua beban selalu ditanggung bersama. Tak ada paku yang menonjol sendirian, meskipun kegemilangan skill individu tentu juga tidak dimatikan.
Ayase Ueda, misalnya, yang mencetak dua gol ke gawang Tunisia. Namanya memang tidak setenar Lionel Messi, Erling Haaland, Cristiano Ronaldo, atau bahkan Kylian Mbappe.
Namun, dia percaya diri mampu membawa Samurai Biru melangkah jauh, bukan sebagai Messi bagi Argentina, Ronaldo bagi Portugal, atau Mbappe bagi Prancis. “Mau Anda pemain terkenal atau tidak terkenal, tugas kami di sini sama, yaitu memburu gelar juara di Piala Dunia,” tegas Ueda, dikutip dari laman Gekisaka. (ren/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online