Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mi6 Usul Olahraga Tradisional Masuk PON 2028, Didu: Jangan Sampai Warisan Nusantara Punah

Rury Anjas Andita • Minggu, 5 Juli 2026 | 20:50 WIB
Mi6 mengusulkan olahraga tradisional masuk PON 2028 sebagai cabang ekshibisi untuk melestarikan budaya dan menjaga warisan Nusantara.
Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto mengusulkan olahraga tradisional masuk PON 2028 sebagai cabang ekshibisi untuk melestarikan budaya dan menjaga warisan nusantara.

LombokPost – Lembaga Kajian Sosial dan Politik (Mi6) mengusulkan agar Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 memberikan ruang bagi olahraga tradisional rakyat sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Indonesia. Setidaknya, olahraga tradisional dapat dipertandingkan sebagai cabang ekshibisi sebelum masuk menjadi nomor resmi pada PON berikutnya.

Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto atau yang akrab disapa Didu menilai Indonesia memiliki ratusan olahraga tradisional yang tumbuh dari kearifan lokal masyarakat di berbagai daerah. Namun, banyak di antaranya mulai kehilangan ruang dan semakin jarang dimainkan oleh generasi muda.

"Indonesia memiliki kekayaan olahraga tradisional yang luar biasa. Sayangnya, banyak yang mulai ditinggalkan karena minim ruang aktualisasi dan promosi. Karena itu kami mengusulkan agar PON 2028 memberi tempat bagi olahraga tradisional, minimal sebagai cabang ekshibisi," ujar Didu di Mataram, Minggu (5/7).

Baca Juga: Sah! Menpora Erick Thohir Serahkan SK Tuan Rumah PON 2028 ke NTB, NTT, dan DKI Jakarta

Menurutnya, selama ini PON telah sukses menjadi ajang kompetisi berbagai cabang olahraga prestasi. Namun sebagai pesta olahraga terbesar di Indonesia yang melibatkan seluruh provinsi, PON juga memiliki peran strategis sebagai sarana pelestarian budaya bangsa.

Bukan Sekadar Pertandingan

Didu menegaskan olahraga tradisional tidak hanya berbicara mengenai kompetisi dan kemenangan. Di balik setiap permainan tradisional tersimpan nilai-nilai pendidikan karakter, gotong royong, sportivitas, hingga filosofi kehidupan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

"Olahraga tradisional adalah bagian dari memori kolektif bangsa. Di dalamnya ada sejarah, filosofi hidup, semangat kebersamaan, dan identitas masyarakat. Jika tidak dirawat, kita berisiko kehilangan sebagian jati diri bangsa," katanya.

Baca Juga: Samsudin Magenda Pimpin Pordasi Berkuda Memanah NTB, Bidik Emas PON 2028

Karena itu, Mi6 mengusulkan agar penyelenggara PON tidak langsung memasukkan olahraga tradisional sebagai cabang resmi, tetapi memulainya melalui kategori ekshibisi.

Skema tersebut dinilai menjadi langkah realistis sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk kembali mengenal kekayaan olahraga tradisional Nusantara.

"Cabang ekshibisi bisa menjadi titik awal. Dari sana bisa dilakukan evaluasi, penyusunan regulasi, standarisasi pertandingan hingga pembinaan atlet secara lebih sistematis. Jika berkembang baik, bukan tidak mungkin nantinya menjadi cabang resmi," jelasnya.

Didu juga berharap Ketua KONI NTB Mori Hanafi dapat memperjuangkan agar olahraga tradisional memperoleh ruang dalam PON 2028, termasuk penyediaan venue khusus apabila nantinya masuk sebagai cabang ekshibisi.

Bisa Dongkrak Pariwisata Daerah

Selain melestarikan budaya, Mi6 menilai kehadiran olahraga tradisional di PON juga akan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Setiap provinsi memiliki permainan rakyat dan olahraga khas yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi atlet, ofisial, maupun wisatawan yang hadir selama penyelenggaraan PON.

Baca Juga: Intip Kesiapan Venue PON 2028 di NTB, Ketua KONI Pusat Puji Kualitas Venue

"Kita ingin PON menjadi etalase kebudayaan Indonesia. Ketika masyarakat dari berbagai provinsi berkumpul, mereka tidak hanya menyaksikan olahraga modern, tetapi juga mengenal tradisi dan permainan rakyat dari berbagai daerah," ujarnya.

Menurut Didu, konsep tersebut akan membuat PON memiliki nilai tambah sebagai ajang promosi budaya sekaligus memperkuat identitas nasional.

Perlu Inventarisasi Nasional

Mi6 juga mengusulkan agar Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Kebudayaan, serta pemerintah daerah mulai melakukan inventarisasi olahraga tradisional yang berpotensi dipertandingkan pada PON 2028.

Baca Juga: Tinjau Venue PON XXII 2028, Ketum KONI Pusat Puji Kesiapan NTB

Inventarisasi tersebut mencakup dokumentasi, penyusunan aturan pertandingan, sistem penilaian, hingga pola pembinaan atlet secara berkelanjutan.

Di sisi lain, olahraga tradisional juga dinilai perlu diperkenalkan kembali melalui sekolah dan komunitas masyarakat agar regenerasi pelaku tetap berjalan.

"Anak-anak muda harus diberi kesempatan mengenal permainan dan olahraga tradisional sejak dini. Jangan sampai olahraga tradisi hanya muncul saat festival atau seremoni," katanya.

Momentum Menjaga Jati Diri Bangsa

Menurut Didu, pelestarian olahraga tradisional merupakan investasi budaya jangka panjang di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi.

Ia berharap usulan tersebut menjadi perhatian para pemangku kepentingan dalam menyiapkan PON XXII Tahun 2028.

Baca Juga: Kadikpora NTB Buka Musprov VI Persinas ASAD, Dorong Lahirnya Pesilat Berprestasi Menuju PON 2028

"Prestasi olahraga memang penting. Tetapi bangsa yang besar juga adalah bangsa yang mampu menjaga akar budayanya. PON 2028 bisa menjadi momentum mempertemukan semangat prestasi dengan semangat pelestarian budaya," pungkasnya.

 

Editor : Rury Anjas Andita
#Mi6 #warisan nusantara #Pon 2028 #cabor #olahraga tradisional