LombokPost – Otoritas tertinggi sepak bola Eropa, UEFA, merilis pernyataan resmi yang sangat keras terkait penangguhan hukuman kartu merah striker Folarin Balogun.
Keputusan badan yudisial yang memberikan masa percobaan satu tahun dan membebaskan Balogun dari larangan bertanding otomatis satu laga dinilai telah melewati "garis merah" regulasi universal.
UEFA menegaskan bahwa aturan sepak bola tidak boleh dinegosiasikan demi asas keadilan, kejujuran, dan transparansi kompetisi.
Baca Juga: Wasit Ganjar Kartu Merah Pemain Paraguay Tanpa Ada Pelanggaran di Lapangan, Ternyata Ini Alasannya
"Hukuman larangan bertanding minimal satu laga setelah kartu merah langsung adalah prinsip mutlak yang tertanam dalam regulasi. Ini bukan opsi diskresionari yang bisa ditafsirkan berbeda," bunyi rilis resmi UEFA, Senin (6/7).
Rusak Integritas Turnamen
Kecaman keras ini muncul karena keputusan kontroversial tersebut diambil di tengah berjalannya turnamen akbar (Piala Dunia).
UEFA menilai langkah ini mencederai keadilan bagi pemain lain.
Yang mana sebelumnya sama menerima sanksi serupa dan tetap menjalani hukuman secara reguler.
Ketika kepastian hukum tidak lagi dijamin oleh sang pengawal aturan, maka integritas permainan berada dalam bahaya besar.
Baca Juga: Diwarnai 3 Kartu Merah, Meksiko Kalahkan Afrika Selatan 2-0
Dampak luasnya dimana kredibilitas kompetisi akan runtuh.
Efek Domino ke Level Global
Lebih lanjut, UEFA mengingatkan bahwa turnamen sebesar Piala Dunia memiliki daya tular yang masif, baik positif maupun negatif, terhadap ekosistem sepak bola global.
Keputusan ini dianggap menciptakan preseden buruk yang memaksa situasi serupa di masa depan menuntut perlakuan yang sama.
UEFA pun tanpa ragu menyebut keputusan penangguhan tersebut sebagai tindakan yang tak pernah terjadi sebelumnya, tidak masuk akal, dan tidak dapat dibenarkan.
UEFA secara terbuka menyatakan ketidakpercayaan dan kekecewaan mendalam atas keputusan menganulir hukuman larangan bertanding otomatis bagi bintang lapangan hijau, Folarin Balogun, usai diganjar kartu merah.
Otoritas sepak bola Eropa itu menilai marwah si kulit bundar tengah dipertaruhkan akibat inkonsistensi penegakan aturan.
"Sepak bola adalah olahraga yang paling dicintai di dunia karena ini adalah permainan yang indah. Olahraga ini dipercaya karena dimainkan di mana saja dengan hukum yang sama," tulis UEFA dalam pernyataan resminya.
Bagi UEFA, keputusan memberikan masa percobaan setahun dan membiarkan Balogun tetap merumput di laga berikutnya telah mencederai rasa keadilan.
Terlebih, banyak pemain lain yang bernasib sama di turnamen yang sama, namun dengan patuh tetap menjalani hukuman mereka tanpa pengecualian.
UEFA menilai jika preseden buruk ini dibiarkan, maka kompetisi akan kehilangan kredibilitasnya. Mengingat status turnamen ini adalah Piala Dunia, dampaknya bisa merusak tatanan sepak bola secara global.
Di akhir pernyataannya, UEFA mengecam keras keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah yang tidak adil serta merusak sportivitas yang selama ini dijunjung tinggi oleh jutaan pencinta sepak bola.
Editor : Redaksi Lombok Post Online