Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DLHPKP) KLU H Rusdi mengakui, baik proyek TPST Gili Trawangan dan TPA Jugil yang dikerjakan Kementerian PUPR tak bisa rampung tepat waktu. TPST Gili Trawangan dikerjakan melalui APBN 2018 lalu, pengerjaanya mengalami penundaan karena gempa. Sedangkan proyek TPA Jugil, tidak bisa langsung rampung karena adanya kerusakan talud pada sisi TPA.
"Proyek tersebut terus berlanjut, tapi masih dalam penyesuaian anggaran lagi," ujar Rusdi.
Kementerian PUPR, sambung dia, akan melanjutkan proyek TPST Trawangan tahun ini. Terlebih lagi, anggaran lanjutan proyek sudah diusulkan kembali oleh Dirjen Cipta Karya - Kementerian PUPR. Ditargetkan akhir tahun ini, proyek tersebut sudah dapat dimanfaatkan.
Rusdi tak mengetahui berapa total volume TPST yang selesai dikerjakan. Namun melihat sisa pekerjaan yang akan dilanjutkan, diproyeksikan memerlukan biaya sekitar Rp 3 miliar sampai Rp 4 miliar. Apabila proyek ini sudah rampung 100 persen, maka pusat akan menambahkan dengan prasarana pendukung seperti mesin pengolah sampah.
"Anggarannya sudah ada. Hanya ada kesalahan teknis terhadap apa yang harus dilanjutkan dari hasil yang putus kontrak kemarin itu," sambungnya.
Menyangkut TPA Jugil, Rusdi memastikan tetap difungsikan meski pengerjaan proyek belum seluruhnya rampung. Hanya saja, TPA Jugil masih terbatas pada pembuangan di lokasi tersebut tanpa dibarengi dengan pemilahan sampah.
"Kalau yang TPS Jugil tinggal sedikit yang dikerjakan. Namun akibat gempa, talud untuk menahan tebing itu hancur," tambahnya.
Menurut dia, perbaikan talud TPA mutlak dilakukan. Talud ini menjadi penahan tebing TPA dari ancaman longsor saat musim hujan. Talud itu sendiri merupakan bagian dari kontrak proyek secara keseluruhan. Ia berharap tahun ini kelanjutan proyek dirampungkan. (fer/r4) Editor : Administrator