Pusdalops BPBD KLU Darsidep Bayuaji membenarkan hal ini. Banjir rendaman terjadi di Dusun Lekok Desa Gondang Kecamatan Gangga, Dusun Jambianom Desa Medana Kecamatan Tanjung, Dusun Muara Putat Desa Pemenang Timur, Dusun Teluk Kombal Desa Pemenang Barat, dan Dusun Teluk Nara Desa Malaka di Kecamatan Pemenang.
”Banjir ini cukup besar, tapi hanya lewat saja. Tidak ada dampak untuk permukiman masyarakat. Setengah jam langsung surut airnya,” jelas dia.
Sedangkan potensi longsor akibat hujan lebat dikatakan belum ada. Hanya saja, ada beberapa pohon yang tumbang akibat angin kencang. Yakni di Dusun Orong Kopang Desa Medana.
”Itu rantingnya yang patah,” kata pria yang akrab disapa Araruna itu menjelaskan dampak yang tak signifikan.
Terkait longsor, ada beberapa tempat yang menjadi perhatian. Namun BPBD KLU sudah memasang early warning system di lokasi tersebut. Alat tersebut berfungsi mendeteksi terjadinya longsor.
”Sirine akan berbunyi jika terjadi pergerakan tanah dan masyarakat akan langsung bergerak ke titik kumpul yang sudah ditentukan,” jelas dia.
Alat tersebut dipasang di Dusun Menggala Lauq, Menggala Daye, Kampung Merujuk, dan Dusun Jeruk Manis. Kata dia, alat tersebut bisa dipantau langsung dari kantor BPBD.
”Ketika tanah bergerak langsung ada peringatan dini. Biasanya satu-dua jam pasti terjadi longsor,” kata dia.
Terkait adanya jembatan yang putus, sejatinya sudah terjadi sejak banjir 2019 lalu. Saat itu warga berinisiatif memperbaiki dengan disambung menggunakan bambu di ujung timur dan baratnya. Sambungan bambu inilah yang terseret arus banjir bandang Sabtu lalu (30/1).
”Itu jembatan penghubung Desa Selengean dan Desa Gumantar,” tandas dia.
”Kami mengimbau warga di tengah cuaca saat ini untuk selalu waspada. Nelayan jangan dulu melaut,” tutup Araruna.
Terpisah, warga KLU Izhar mengatakan, belakangan cuaca memang tak bersahabat.
”Kita batasi keluar rumah dulu karena angin kencang ini. Takutnya ada pohon tumbang di jalan,” pungkas dia. (fer/r9) Editor : Wahyu Prihadi