Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu menuturkan, ritual adat Ngasuh Gumi dilakukan berkaitan dengan adanya pelebaran jalan Pusuk Gunung Malang. Pelebaran jalan tersebut membuat sebagian pohon di sekitar jalan rusak.
”Ritual ini untuk menolak bala atau petaka di jalan tersebut,” ujar dia.
Pelebaran jalan tersebut merupakan usulan pemda ke gubernur NTB. ”Saya berterimakasih kepada gubernur. Masyarakat Lombok Utara juga mendukung sepenuhnya pelebaran jalan ini,” jelas dia.
Pria asal Gangga itu mengatakan, ritual adat ini merupakan kepedulian masyarakat memelihara alam dan sekitarnya. Sehingga tidak salah jika di lambang daerah terdapat kata Tioq Tata Tunaq.
”Artinya tumbuh, kelola, dan pelihara atau disayangi. Jadi bumi dan sekitarnya jadi tanggung jawab kita semua,” jelas dia.
Djohan menegaskan, Pemda mendorong agar adat istiadat Dayan Gunung ini terus dilestarikan. Hal ini menjadi salah satu kebanggaan KLU untuk menarik wisatawan mancanegara.
”Karena Lombok Utara lengkap. Ada objek wisata pantai, wisata Gunung Rinjani, ada wisata religi dengan masjid kunonya, hingga wisata adat yang terus terjaga hingga saat ini,” tandas dia.
Mangku Bajang Raden Prawangsa Jaya Ningrat mengatakan, rangkaian peristiwa ini berkaitan dengan proyek fisik di Pusuk. Proyek yang akan memberikan dampak baik terhadap pengguna jalan tersebut.
”Perlu diketahui, kami masyarakat adat tidak pernah yang namanya menghalangi pembangunan di sini. Hanya saja ada adat istiadat yang perlu dilakuan,” jelas dia.
Masyarakat adat Dayan Gunung kata dia, masih menyimpan prosesi adat Ngasuh Gumi. Raden Prawangsa mengaku cukup berat menjalankan itu mengingat tidak semua daerah menjalankannya.
”Mohon bantu kami jaga adat ini. Sebab kami tidak wariskan harta benda dan jabatan, tapi adat ini,” ujar dia. (fer/r9) Editor : Wahyu Prihadi