”Orang yang datang ini belum ada kepastian, sama sekali tidak ada sampai sekarang ini,” ujar Sekretaris Koperasi Karya Bahari (KKB) Muludin, kemarin (15/3).
Pihaknya bersama stakeholder terkait sudah melakukan beberapa kali rapat. Namun hingga saat ini tidak ada informasi lanjutannya. Justru tamu yang ada di KLU ingin menuju Bali, bahkan sejak WSBK tahun lalu.
”Tapi tamu dari luar ke Gili Tramena itu tidak ada,” sambungnya.
KKB telah mempersiapkan 52 unit kapal publik. Kapal cepat juga disediakan tergantung pesanan tamu.
”Kalau ada yang booking sesuai ongkos, kami bawa,” kata Muludin.
Sejak pandemi merebak, tak banyak kapal penyeberangan yang beroperasi. Setiap harinya hanya 4-7 kapal saja yang berjalan. Sementara saat ini, hampir tidak ada penumpang yang diseberangkan.
”Kita juga tidak tahu apakah mereka lewat Teluk Nare atau tidak. Karena di sana agen besar saja,” jelasnya.
Event MotoGP menjadi harapan besar pengusaha jasa transportasi laut. Namun sayangnya hingga saat ini belum ada kepastian mengenai tamu. Padahal saat rapat ada sekitar 1.000 orang tamu yang dibahas.
”Yang jelas tamu MotoGP ini tidak ada sama sekali,” tegasnya .
Muludin menjelaskan, kapal publik ini baru bisa berjalan ketika penumpangnya penuh. Sedangkan boat runaway, baru bisa berjalan dengan biaya charter sebesar Rp 650 ribu. Namun belum ada terlihat satu pun charter hingga saat ini.
”Masih nol,” klaimnya.
”Padahal kalau mereka atur tamunya dari hotel ini, kami bisa aturkan jadwalnya,” imbuh Muludin.
Pengusaha angkutan laut ini mengira tamu MotoGP ini akan dikoordinir Pemerintah KLU melalu Dinas Pariwisata. Namun yang terlihat ternyata tamu yang melakukan booking sendiri.
”Makanya ini susah sekali, kita tidak tahu di MotoGP ini dapat apa,” tandasnya.
Koordinator PHRI KLU Lalu Kusnawan mengatakan, Jatah MGPA untuk KLU sebanyak 6.000 kamar. Yakni 4.500 kamar di Gili Tramena, dan 1.500 kamar di darat dari Klui sampai Senaru.
Dari jumlah tersebut, 90 persen sudah masuk daftar pesanan tamu MotoGP. Namun pemesan riil dengan membayar uang muka baru sekitar 400 kamar. Jumlah konfirmasi yang sedikit ini mencakup Gili Tramena. Sedangkan untuk kamar di daratan dari Jeeva Klui sampai Hotel Mina Tanjung relatif sudah terisi.
”Siapa pun bisa memesan. Tetapi yang masuk uang mukanya tidak lebih dari 400 kamar. Artinya belum 10 persen dari jatah ribuan di Gili Tramena,” bebernya.
GM Hotel Willson Retreat 's Gili Trawangan ini berharap, ada dorongan konfirmasi pada hari-hari terakhir jelang MotoGP. Mengingat sejak diumumkan ke publik, seluruh manajemen hotel sudah berbenah dengan beban operasional harian yang cukup besar.
Kusnawan menepis anggapa harga kamar hotel di Gili Tramena menjadi penyebab belum banyaknya konfirmasi pesanan. Secara harga, hotel-hotel di Gili telah menurunkan tarif dengan range antara Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta. Saat normal, tarif tertinggi saat ini biasanya dijual Rp 4,5 juta per malam.
”Sepertinya ada yang mis, karena sampai dengan saat ini, kita belum tahu jumlah tiket MotoGP yang laku,” katanya.
”Saya saja sampai banting harga dari Rp1,5 juta menjadi hanya Rp900 ribu. Tapi status konfirmasi memang sedikit,” pungkasnya. (fer/r9) Editor : Redaksi Desain Grafis