TANJUNG-Insiden kurang menyenangkan diduga menimpa sejumlah wisatawan lokal di salah satu resort di Gili Trawangan, beberapa hari lalu. Hal tersebut terungkap dari postingan viral akun Instagram @garybhaztara, Sabtu lalu (4/2).
Pemilik akun tersebut menuliskan jika dirinya bersama empat rekannya mendapatkan perlakuan kasar dan diskriminasi dari manajemen Pearl of Trawangan Resort saat berkunjung untuk makan siang. Gary mengaku diusir lantaran bukan tamu yang menginap tanpa ditanyakan maksud kedatangan mereka terlebih dahulu.
General Manager Pearl of Trawangan Resort Vicky Hanoi memberikan klarifikasi. Pihaknya membantah melakukan tindakan diskrimasi seperti yang ditudingkan. Pihaknya selalu melayani setiap tamu dengan baik. ”Namun, kami juga perlu menjaga kenyamanan dan privasi tamu yang menginap bersama kami,” ujarnya saat dikonfirmasi Lombok Post, Minggu (5/2).
Dibeberkannya, Gary Bhaztara bersama rekannya datang melalui akses jalan tamu hotel bukan lobby, dan tidak ke dalam restoran Pearl of Trawangan Resort. Pada saat itu yang bersangkutan melakukan pengambilan foto dan video di area resort. ”Beliau mengambil foto dan video yang diarahkan ke area kolam renang kami, yang mana hal tersebut dilarang sesuai aturan perusahaan kami,” bebernya.
Dikatakannya, aturan hotel tidak mengizinkan tamu non residential untuk mengambil gambar maupun video area hotel tanpa izin terlebih dahulu. Ini untuk menjaga privasi dan kenyamanan para tamu residential. ”Setelah ditanyakan dan disampaikan oleh security kami kepada beliau, kalau bapak mau makan siang silakan langsung ke restaurant kami, namun beliau tetap mengambil video dan gambar,” terangnya.
Pada akhirnya, FB Director Pearl of Trawangan Resort yang saat itu ada di restoran pun menghampiri mereka dan menjelaskan aturan pengambilan foto. Namun sayangnya pada saat itu yang bersangkutan justru menjawab dengan nada cukup tinggi. ”Dijawab dengan nada tinggi oleh Bapak Gary bahwa dirinya fotografer dan mau foto-foto,” sambungnya.
Bahkan FB Director pun telah menyampaikan jika aktivitas itu tidak diizinkan. Bahkan mempersilakan mereka ke restoran jika memang ingin makan siang. ”Akan tetapi Bapak Gary masih tidak menerima dan tetap berbicara dengan nada tinggi bahwa dirinya ini lawyer kepada FB Director kami,” kata Vicky.
Pada saat kejadian, Vicky mengaku jika kondisi tamu di lobby hotel dan restoran sedang ramai. Bahkan banyak tamu yang terlihat kurang nyaman karena difoto dan divideokan. ”Tamu kami sampai berdiri karena difoto dan video kamera besar,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakannya, teguran yang disampaikan staf resort justru direspons tidak baik. Pihak bersangkutan, kata Vicky justru mengeluarkan kata ”bule gila” dan meneriaki properti mereka. ”FB Director kami hanya diam dan mengatakan maaf dengan sikap anda seperti ini, anda boleh mencari restaurant lain,” katanya menirukan ucapan FB Director.
Setelah itu, Gary Bhaztara bersama rekannya pun pergi meninggalkan Pearl of Trawangan Resort. Namun selang beberapa menit, tiga orang di antara mereka diduga kembali di depan restoran. ”Meneriaki bule gila sambil mengambil video di depan restoran kami,” tambahnya.
”Apabila ada pihak-pihak yang ingin mengetahui kejadian sebenarnya, kami dapat menyertakan bukti rekaman CCTV pada saat itu,” bebernya lagi.
Melihat kronologi di atas, Vicky berharap agar tidak ada pihak yang asal menyalahkan. Pihaknya tidak pernah melakukan tindakan diskriminasi pada siapa pun. Larangan pengambilan gambar dan video tanpa izin dilakukan untuk menjaga privasi tamu. ”Drone di areal hotel saja tidak dibolehkan, karena beberapa villa kami open bathroom,” tandasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Gary Bhaztara membantah sejumlah klarifikasi yang diberikan pihak Pearl of Trawangan Resort. Gary menuturkan, pada Sabtu siang itu mereka memarkirkan sepeda di resort tersebut untuk makan siang, setelah lelah berkeliling pulau sejak pagi. Melihat bentuk resort yang unik karena terbuat dari bambu, Gary pun memutuskan untuk memfoto bangunan tersebut dengan ponsel miliknya. ”Yang namanya wisatawan kan pasti pakai handphone fotonya, dia tuduh saya pakai kamera dan bilang saya foto dan videokan orang, padahal itu tidak ada,” bebernya.
Dikatakannya, dirinya bersama rekannya tidak pernah mengambil gambar maupun video resort maupun orang di dalamnya menggunakan kamera besar seperti yang dituduhkan. Mereka murni hanya mengambil gambar bangunan resort yang dinilai cantik menggunakan ponsel. ”Jadi keterangan pihak hotel itu tidak benar. Kita tidak pernah mengambil foto orang tapi kami foto bambunya, fotonya pun ada sama saya. Tudingan saya mengambil gambar pakai kamera besar itu ngaco,” tegasnya.
Gary membenarkan jika mereka masuk tidak melalui lobby resort. Mereka tidak tahu jika diharuskan masuk melalui pintu tersebut karena itu pertama kalinya masuk Pearl of Trawangan Resort. Namun dirinya menyayangkan adanya reaksi kurang menyenangkan dari pihak hotel atas hal tersebut. ”Pas ditanya menginap atau tidak saya diminta keluar dan saya keluar pelan-pelan. Tapi teman saya bilang mau makan dan security-nya bilang kalua mau makan bisa. Saya langsung bilang makanya tanya dulu jangan langsung usir orang,” bebernya.
”Pada saat saya bilang itu, bosnya datang marah marah ke saya,” tambahnya.
Klarifikasi pihak resort tersebut dinilai Gary banyak menuliskan fitnah dan terkesan mencemarkan nama baiknya. Dirinya membenarkan jika sempat kembali lagi bersama kedua rekannya. Namun membantah telah menyebutkan kata bule gila. Pada saat itu dirinya hanya mengucapkan kata you are crazy. Hal ini diakuinya sebagai ungkapan atas ucapan kasar yang diterima mereka dari pihak resort. ”Bahkan saya tanya sama dia kenapa kamu kasar sama saya, tapi dia tetap kasar ke kami. Sontak saya bilang you are crazy. Itu kan ungkapan karena posisi kita saat itu lagi lapar dan haus,” bebernya.
”Saya tidak pernah bilang bule gila, itu bisa jadi fitnah, dia bilang saya fotokan orang dan kolam berenang itu salah,” imbuhnya.
Gary menegaskan pihaknya akan menempuh jalur hukum terhadap persoalan ini sebelum ada perdamaian. Dirinya tidak ingin ada wisatawan lokal lainnya yang mengalami insiden serupa. Saat ini dirinya tengah mengurus persoalan ini di Polres Lotara dan mengumpulkan bukti untuk menggugat secara perdata. ”Jadi pihak hotel ini bilang kalau ada yang mau diomongin ayo ke sini, dong salah itu, saya kan korban seharusnya mereka yang ke Jakarta,” katanya.
”Karena kalau tidak ada perdamaian, kami pasti gugat dia,” pungkas Gary. (fer/r9)
Editor : Galih Mps