Kabupaten Lombok Utara kaya akan kesenian tari tradisional. Seperti yang ditampilkan dalam gebyar tarian tradisional suku Sasak Dayan Gunung ini.
FERIAL AYU, Lombok Utara
Ratusan orang memadati lapangan Tioq Tata Tunaq, Sabtu malam (12/8). Di sepanjang sisi lapangan telah berjejer beraneka ragam dagangan para pedagang kaki lima. Malam itu sedang berlangsung Gebyar Tarian Tradisional Suku Sasak Dayan Gunung.
Kegiatan dimulai pukul 20.00 Wita, 15 tarian ditampilkan dalam pesta seni budaya rakyat itu. Di antaranya, tari gendang beleq, tari kembang sembah, tari sireh buani, tari kembang rampe, tari gandrung, tari gegerok.
Kemudian tari manuk-manukan, tari rudat, tari mendewa, tari sedah pengkasme, tari topeng, tari kinanti, tari nyoyang, tari nunas aek, tari wonderland.
Diawali dengan tarian gendang beleq, tari kembang sembah dan tari sireh buani. Ketiga tarian pembuka ini sukses membuat penonton takjub di lapangan tersebut. ”Kami berharap dengan kegiatan ini semuanya bisa membuka diri, bagaimana bersama-sama dengan anak muda promosikan budaya kita,” ujar Ketua Rumah Budaya Kembang Rampe Summira Sandi Justitia Putra.
Rumah budaya ini bergerak di bidang khusus seni budaya tradisi. Pada 2018 lalu, kegiatan ini juga pernah digelar di Jogjakarta. Hal ini lantaran saat itu, semua lapangan di Lombok Utara dijadikan sebagai tempat pengungsian.
Namun setahun setelahnya, Rumah Budaya Kembang Rampe Summira kembali hadir melangsungkan gebyar ini di Lombok Utara. Pada 2020 hingga 2021, pihaknya fokus mendirikan sekolah adat di Desa Bentek bersama Kepala Desa Bentek Warna Wijaya.
Kemudian pada 2022, pihaknya kembali mengadakan festival budaya Lombok Utara di Desa Bentek. Kegiatan itu digelar selama tiga hari tiga malam. Pada tahun ini menjadi hal yang membanggakan karena bisa memperlihatkan salah satu tarian Lombok Utara, tari sireh buani yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia pada 2019 lalu. ”Semoga dengan seperti ini semuanya bisa menikmati, karena seni tidak boleh mati,” tegasnya.
Fungsi seni tari tradisional sangat penting dalam kehidupan masyarakat Dayan Gunung. Sehingga diperlukan tekad, semangat kebersamaan, program kerja, dan kebijakan terarah.
Untuk itu, peran serta masyarakat melalui pelaku kesenian harus terus diberdayakan. Agar kesenian yang berkembang di masyarakat dapat berguna bagi generasi muda. ”Anak-anak muda harus tahu bagaimana caranya dengan SDM yang ada membangun dan melestarikan budaya kita,” katanya.
Kegiatan gebyar tari tradisional ini menjadi ajang promosi, pelestarian serta menjaga semangat, dan memasyarakatkan seni tari. Dalam kegiatan ini, Rumah Budaya Kembang Rampe Sammira bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). ”Dibantu melalui program bantuan pemerintah fasilitasi bidang kebudayaan stimulan kegiatan ekspresi budaya tahun 2023,” bebernya.
Tak hanya itu, pihaknya juga dibantu sejumlah instansi Pemda Lombok Utara. Dirinya berharap, kegiatan ini membuat semua pihak khususnya pemuda Lombok Utara membuka diri mempromosikan tradisi budaya dan kesenian daerahnya. ”Ini adalah kekayaan kita yang sebenar-benarnya harus kita jaga. Karena kalau bukan kita siapa lagi,” tandasnya. (bersambung/r9)
Editor : Galih Mps