Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemda KLU-Pemprov NTB Belum Ada Solusi Konkret, Penyediaan Air Bersih di Gili Tramena

Yuyun Kutari • Rabu, 9 Oktober 2024 | 10:18 WIB
MENYENANGKAN: Dua wisatawan mancanegara sedang menikmati keindahan laut di kawasan perairan Gili Tramena, Lombok Utara, beberapa waktu lalu.
MENYENANGKAN: Dua wisatawan mancanegara sedang menikmati keindahan laut di kawasan perairan Gili Tramena, Lombok Utara, beberapa waktu lalu.

LombokPost-Pemda KLU dan Pemprov NTB berulang kali menggelar rapat koordinasi, terkait penyediaan air bersih bagi masyarakat di kawasan Gili Trawangan dan Meno (Tramena).

Ini setelah dicabutnya izin pengeboran pipa bawah laut milik PT Tiara Cipta Nirwana (TCN) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Namun, hingga kini belum ada solusi konkret yang diperoleh.

”Kita sedang berpikir mencari solusi sumber mata air yang ramah lingkungan. Ini tidak bisa serta merta, tetapi butuh kajian dan waktu,” terang Asisten II Setda NTB H Fathul Gani, saat ditemui, Selasa (8/10).

Tentu sumber mata air itu tidak bisa didapatkan melalui proses pengeboran di dasar laut karena muncul kerusakan lingkungan.

Pemprov tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi, sehingga berakhir pada pencabutan izin.

“Karena melihat kajian-kajian, kita tidak bisa terlalu berharap juga untuk pengeboran. Tentu namanya pengeboran pasti ada dampak-dampaknya. Itu yang kita minimalisir kedepan,” terangnya.

Diakuinya, untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di dua gili tersebut, sebenarnya sampai saat ini PT TCN masih melakukan pendistribusian.

Akan tetapi, ketika satu sumber mata air tidak beroperasi, ini bisa mengurangi jumlah distribusi air yang diterima sebelumnya.

Ia juga tidak menampik, ada saran yang masuk agar kawasan Gili Trawangan dan Meno ditetapkan dengan status tanggap darurat kekeringan. Agar BPBD bisa mendistribusikan air bersih.

Terhadap masukan itu, Fathul Gani mengatakan bahwa merealisasikan hal itu tidak semudah yang dibayangkan.

“Nggak bisa begitu, jadi Trawangan itu butuh air 60 liter per detik. Sama artinya dia mencakup dua kebutuhan dari dua kecamatan di KLU,” jelasnya.

Fathul Gani menegaskan dalam hal penanganan dan mencari solusi cepat, Pemprov NTB tetap bergerak, berkoordinasi dengan pihak terkait.

“Akan ada pertemuan lanjutan, ini tetap menjadi perhatian, kita carikan solusi bagaimana supaya air tetap bisa mengalir, syarat-syarat lingkungan bisa terpenuhi,” tandasnya.

Kepala UPTD Gili Tramena Dr Mawardi mengaku khawatir jika persoalan penyediaan air bersih tidak kunjung selesai, terutama untuk Gili Trawangan.

“Di sana, bukan saja masyarakat yang tinggal, tetapi ada wisatawan yang datang setiap hari, silih berganti,” ujarnya.

Banyak pengaruh negatif. Salah satunya, kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan bisa menurun sehingga tidak tercapainya target kunjungan 2 juta wisatawan di tahun ini.

Bagaimanapun, kawasan tersebut selama ini menjadi sekian dari banyaknya alasan wisatawan berkunjung ke Lombok. (yun/r11)

Editor : Kimda Farida
#air bersih #Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) #Kunjungan Wisatawan #Gili Trawangan