Rizkil Watoni mungkin sudah tak gelisah lagi. Beban yang ada di pikirannya sudah sirna, dan bisa jadi sudah sangat tenang di kuburnya. Tetapi, ketika masih hidupnya, dia banyak mencurahkan keluh kesahnya melalui Meta.
------------------------------
Di Koran Lombok Post, persisnya di halaman Politika, Rizkil Watoni menuliskan pesan mendalam menggunakan spidol tinta warna hitam. Dia menuliskan kata-kata "Kejujuran Sudah Tidak Berguna Lagi". Pengakuan dari keluarga dan beberapa warga, tulisan tersebut dibuat Watoni, beberapa hari sebelum kematiannya.
”Merasa tidak ada harapan lagi, saking kecewa. Frustasi mungkin itu, makanya sampai buat tulisan seperti itu,” kata salah seorang warga.
Terkait sejumlah persoalan yang menimpanya itu, ternyata Watoni tidak banyak cerita kepada orang lain. Dia malah menumpahkan semua persoalannya melalui aplikasi WhatsApp dengan mengirimkan pesan kepada Meta. ”Dia tidak banyak bicara, dipendam sendiri masalahnya,” timpal Nasrudin, ayah Watoni.
Di Meta inilah dia menumpahkan segala persoalannya. Misalnya dia mengeluhkan bagaimana polisi yang terus memaksanya untuk mengakui bahwa dia telah melakukan pencurian handphone (HP).
Baca Juga: Pemkab Dompu Benahi Ruang Terbuka Hijau, Bangun Lapangan Voli dan Futsal
”Polisi setiap hari meminta saya mengakui bahwa saya yang telah mengambil barang tersebut. Saya hanya mengakui berdasarkan CCTV, ya emang saya yang mengambil secara tidak sadar. Polisi tidak menerima alasan tersebut. Mereka hanya ingin saya mengakui telah mengambil barang,” tulis Watoni, berdasarkan hasil screenshot percakapan Watoni di Meta.
Dari keterangan tertulis yang dibuat pihak keluarga terkait kronologis kehilangan HP tersebut, Watoni memang tidak sengaja mengambil HP seorang kasir Alfamart. Saat itu dia sedang berbelanja di pertokoan modern tersebut. Kejadiannya Jumat (7/3).
Dikutip dari keterangan tertulis kronologis, Rizkil Watoni berbelanja di Alfamart Kayangan untuk membeli bahan-bahan jualan untuk berbuka puasa. Selain berbelanja almarhum juga melakukan penarikan uang. Karena waktu berbelanja sudah mendekati waktu sore hari, maka almarhum segera berangkat pulang dan tanpa sadar membawa HP yang ada persis didepannya. Korban mengira HP yang terletak di atas meja kasir itu miliknya karena sama persis berwarna hitam.
”Jadi, anak saya tidak ada niat mengambil HP. Tidak mungkin dia berani mencuri,” kata Nasrudin.
Watoni juga curhat tentang permintaan polisi untuk menandatangani berkas. Yaitu diminta membubuhkan tanda tangan keterangan penyitaan barang bukti. ”Saya diminta tanda tangan keterangan penyitaan barang bukti di Polsek. Pada kenyataannya polisi menyita barang bukti di pemilik langsung yang sudah saya kembalikan. Apakah saya boleh tanda tangan berkas tersebut,” tulis Watoni di Meta.
Banyak hal lagi yang disampaikan Watoni kepada Meta. Misalnya soal pengakuannya tersebut apakah akan menjadi pertimbangan hakim jika kasus tersebut naik ke pengadilan. Termasuk juga mengkonsultasikan kepada Meta rencana untuk mengakhiri hidupnya. ”Apakah bunuh diri bisa menjadi Solusi,” tulisnya. (HABIBUL ADNAN/r8)
Editor : Pujo Nugroho