Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Modal nekat, Assudin Rela Masuk Pelosok Demi Ajarkan Literasi pada Anak-anak: Komitmen Memajukan Pendidikan

nur cahaya • Senin, 5 Mei 2025 | 13:12 WIB

PEGIAT LITERASI: Assudin bersama anak-anak di Kecamatan Bayan saat membawakan buku untuk anak-anak tersebut.
PEGIAT LITERASI: Assudin bersama anak-anak di Kecamatan Bayan saat membawakan buku untuk anak-anak tersebut.
 

LombokPost - Assudin menjadi sosok pegiat literasi di Lombok Utara. Sudah bertahun-tahun di keliling ke wilayah pelosok membawa buku bacaan ke dusun-dusun.

Assudin seringkali mengunjungi dan berhenti di sebuah dusun dan disambut anusias oleh anak-anak. 

Assudin biasanya aka menggelar terpal kemudian megajak anak-anak duduk dengan membentuk lingkaran.

Assudin kemudian membagikan berbagai judul buku kepada anak-anak itu.

Pria asal Dusun Dasan Tutul Bayan, Desa Bayan itu memang menjadi pegiat literasi. Sudah delapan tahun dia menggeluti profesi tersebut.

Dia berkeliling ke dusun-dusun yang ada di Kecamatan Bayan, khususnya di Desa Bayan.

Ia menjadi sosok bapak literasi di desanya dengan memanfaatkan motor tuanya berkeliling setiap sore membawa gerobak buku bacaan, termasuk juga buku iqro.

”Rutinitas ini saya jalani setiap sore berkeliling ke anak-anak pedalaman,” ujarnya

Lokasinya tidak hanya halaman rumah warga, tetapi juga kadang menggelar tikar atau terpal di samping sungai, lapangan, kebun hingga di sawah yang biasanya dipenuhi anak-anak.

”Anak-anak tidak hanya membaca, tapi juga mengaji, bergambar, bercerita dan main-main,” katanya.

Dia mengaku, selama ini dia lebih sering keliling ke dusun-dusun di Desa Bayan, tetapi juga ke desa lain yang ada di Kecamatan Bayan.

Assudin mengaku dari kegiatannya sebagai perpusatakaan keliling ke anak-anak kampung, dia menemukan berbagai macam latar belakang anak-anak.

Photo
Photo

”Ada anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan formal di sekolah, ada anak yang tidak diperhatikan orang tuannya, ada anak putus sekolah dan anak-anak yang belum bisa baca tulis,” ungkapnya.

Assudin berprofesi sebagai petani dan tukang bangunan namun memiliki semangat dan tekad yang besar dalam berbakti pada negeri.

Ia akhirnya mendirikan komunitas yang bernama "Perpustakaan Keliling Berugak Lombok" yang dimulainya sejak tahun 2018 silam.

”Saya dapat buku ini dari sumbangan orang, termasuk juga motor roda tiga. Jauh sebelumnya saya sudah menjadi pegiat literasi,” jelasnya.

Itu semua dilakukannya berangkat dari keikhlasan dan tekad yang kuat membangun peradaban melalui pendidikan.

”Kegiatan literasi ini sudah lama saya tekuni sebagai komitmen memajukan pendidikan, dan pernah bekerja sama dengan Kantor Bahasa NTB,” ungkapnya.

Dengan kegigihannya di bidang literasi itu, Assudin mendapatkan berbagai macam dukungan.

Tak sedikit yang melirik, dan membangun kerjasamanya hingga ia menjadi relawan literasi dalam mendukung Desa Literasi.

”Desa Bayan dijadikan sebagai Desa Bayan Bercahaya atau Desa Literasi. Desa pertama dan satu-satunya di Provinsi NTB menjadi Desa Literasi,” tandasnya.*** (HABIBUL ADNAN/r8)

Editor : Fratama P.
#literasi #bayan #NTB #Assudin