Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Arianto Adi Purwanto Terpilih Publikasi Buku Cerita Anak Dwibahasa, Angkat Tema Kebencanaan dengan Dialek Lombok Utara

nur cahaya • Selasa, 6 Mei 2025 | 10:35 WIB

 

PRODUKTIF: Arianto Adi Purwanto presentasi dalam sebuah kegiatan literasi. Karyanya terpilih publikasi pada sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa.
PRODUKTIF: Arianto Adi Purwanto presentasi dalam sebuah kegiatan literasi. Karyanya terpilih publikasi pada sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa.
 

Empat penulis asal Lombok Utara mengukir prestasi pada ajang Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa yang dilaksanakan Balai Bahasa NTB beberapa waktu lalu.

Karya mereka akan dipublikasikan. Salah satunya karya Arianto Adi Purwanto.

----------------------------------------

Arianto Adi Purwanto sudah tak asing dengan dunia penulisan.

 

Beberapa kali karyanya berhasil publikasi di berbagai media ternama. Di antaranya sudah dibukukan. Terutama karya penulisan berupa cerita pendek.

Terbaru karyanya yang cukup menggelitik adalah Iblis Tanah Suci.

Pada Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa (Sasak, Samawa, dan Mbojo-Indonesia) Tahun 2025 yang digelar Balai Bahasa NTB, dia ikut serta.

 

Photo
Photo

Yang membanggakan, karyanya satu di antara beberapa karya terpilih untuk publikasi.

Pria asal Karang Anyar, Desa Gondang, Kecamatan Gangga itu mengaku sering ikut sayembara penulisan cerita anak Dwibahasa.

Karyanya sudah beberapa kali lolos publikasi. ”Namun kali ini agak berbeda. Saya datang dengan misi baru,” katanya.

Misi baru yang dimaksud adalah membangun literasi kebencanaan dengan selipan dialek 'Keto-Kete' khas Lombok Utara. Arianto menulis cerita yang berjudul "Bale Balaq Baloq Dulinep".

Sebuah literasi kebencanaan untuk anak-anak sekolah yang dikemas dengan cerita dan gaya tulisan Bahasa Sasak khas Lombok Utara.

Bale Balaq berarti Rumah Panggung. Dalam cerita pendek tersebut, Arianto menceritakan Baleq Balaq milik Baloq (buyut) Dulinep (nama orang) yang tetap kokoh di tengah kejadian gempa.

”Nama-nama Dulinep atau yang mirip dengan nama itu dulunya sangat khas di daerah saya,” jelas pria kelahiran 1 November 1993 itu.

Melalui karyanya itu, Arianto berharap masyarakat mau memberikan nama kepada anaknya dengan nama-nama khas tersebut. Tetapi saat ini nama seperti itu sudah sangat jarang.

Photo
Photo

”Bahkan mungkin sudah tidak ada orang tua yang memberi nama begitu ke anaknya,” ujarnya.

Alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram ini mengatakan sudah lama  ingin menulis tentang kebencanaan dengan lokasi spesifik di Lombok Utara.

”Keinginan saya ini semakin kuat waktu saya sering ikut kegiatan kebencanaan, terutama tentang literasi kebencanaan,” katanya.

Dia menambahkan dalam sayembara kepenulisan cerita anak kali ini, ia sengaja mengangkat tema kebencanaan yang menggunakan dialek Lombok Utara.

Selain karena minimnya buku literasi kebencanaan terutama yang dikemas dalam cerita anak, ia juga ingin Bahasa Sasak khas Lombok Utara eksis dalam bentuk bahan bacaan.

”Karya ini juga sekaligus mendukung kecintaan saya pada bahasa Lombok Utara, yang bagi saya harus mendapatkan ruang eksisnya dalam bentuk bahan bacaan,” tutupnya. (HABIBUL ADNAN/r8)

Editor : Pujo Nugroho
#literasi #balai bahasa #Sasak #NTB #Lombok Utara