Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Sanggar Gunung Anak Eksis Menggelar Kegiatan Seni, Buat Panggung dengan Sewa Lahan di Tengah Kebun Kelapa

nur cahaya • Senin, 2 Juni 2025 | 12:12 WIB

 

KEGIATAN SENI: Suasana pertunjukan drama lakon yang dilaksanakan Sanggar Anak Gunung dengan Teater Bintang SMAN 1 Gangga.
KEGIATAN SENI: Suasana pertunjukan drama lakon yang dilaksanakan Sanggar Anak Gunung dengan Teater Bintang SMAN 1 Gangga.
 

Sanggar Gunung Anak mungkin satu-satunya sanggar seni teater di Lombok Utara yang cukup eksis berkegiatan.

Untuk teater, mereka secara rutin mengadakan pertunjukan sekali dalam dua bulan. 

Sang Surya baru saja kembali ke peraduannya. Tak berselang lama, bumi mulai gelap. Bersamaan dengan itu, mendung tampak menutupi langit. Hujan sepertinya akan segera turun.

De Galih Mulyadi bersama beberapa rekannya terlihat gusar. Mereka masih harap-harap cemas. Iya, mereka berharap agar malam itu tidak turun hujan.

”Karena persiapan kita sudah matang. Panggung sudah jadi sejak siang,” kata De Galih.

Jika hujan lebat, acara yang sudah dipersiapkan bisa batal.

Untuk mengantisipasi turunnya hujan, mereka menaikkan terpal yang semula disiapkan jadi alas, sebagai atap panggung.

”Tapi beruntung hanya gerimis saja,” tambah De Galih.

De Galih bersama beberapa rekannya tengah mempersiapkan pertunjukan drama lakon. Jika seni pertunjukan ini sampai gagal karena hujan lebat, akan menimbulkan kerugian.

Rugi waktu, tenaga, pikiran hingga materi. Tiket penonton sudah disiapkan ratusan lembar.

Menurut De Galih, sanggar seni yang didirikannya sejak tahun 2017 lalu itu memang rutin mengadakan kegiatan.

Bahkan tidak sebatas pertunjukan, tapi ada bedah buku, mendongeng, baca puisi dan lain sebagainya.

”Teater seni paling kompleks. Ada penata properti, penata musik, semua ada di situ,” jelasnya.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Dia menceritakan, awalnya ini merupakan sanggar anak. De Galih membuat sanggar untuk menghimpun anak-anak di Dusun Kakong, Desa Selelos, Kecamatan Gangga agar berkumpul membuat kegiatan positif. Seperti mengajak anak-anak untuk membaca buku.

”Saya ajak main teater, dan mau datang,” katanya.

Dalam perjalanannya, mereka eksis berkegiatan. Pada tahun 2018 dapat bantuan panggung dari sebuah sanggar seni di Jogja. Panggung ini menempati sebuah perkebunan Kelapa di Dusun Lokok Gitaq, Desa Gondang.

”Kita sewa kebun kelapa,” cetusnya.

Pria kelahiran 1 September 1988 mengatakan pihaknya menempati perkebunan kelapa karena di KLU belum ada ruang untuk kegiatan seni.

”Kita sewa Rp 3,5 juta per tahun. Itu kita sulap kayak panggung pertunjukkan,” bebernya.

Pentas seni drama lakon yang dilaksanakan belum lama ini merupakan kolaborasi Sanggar Anak Gunung dengan teater Bintang SMAN 1 Gangga dengan mengangkat tema "Rabies".

Lakon dengan tema rabies ini sebagai representasi dari penyakit kronis yang tidak memiliki vaksin. Yaitu korupsi, kolusi, dan oligarki.

”Karya ini merupakan kumpulan potongan puzzle dari komentar youtube, berita-berita viral, hingga fenomena sosial mutakhir yang dikemas dalam satire penuh humor, namun menyentil,” ujar De Galih.

Melalui lakon ini, De Galih ingin siswa yang main, bukan sekedar tampil di panggung. Tetapi juga berpikir dan menyadari semrawutnya negeri ini.

”Dan baru menyadari hal itu, bahkan 50 persen dari mereka sebelumnya benar-benar tidak tahu sama sekali,” sambungnya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

De Galih bersyukur masyarakat antusias menyaksikan pertunjukan itu. Penonton yang datang sekitar 200 orang lebih. ”Kita jual tiket dengan harga Rp 15 ribu, dan masyarakat sangat antusias,” tutupnya. (HABIBUL ADNAN/r8)

Editor : Siti Aeny Maryam
#penonton #Sanggar #pertunjukan #seni teater #panggung