Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Stunting Lombok Utara Naik di Tengah Upaya Penurunan

Habibul Adnan • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 09:44 WIB

Anding Duwi Cahyadi
Anding Duwi Cahyadi
LombokPost - Upaya masif Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) menekan angka stunting belum menunjukkan hasil memuaskan.

Alih-alih turun, angka stunting dilaporkan justru naik. Ini berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2025.

SDKI mencatat, stunting di KLU mencapai 35,2 persen. Angka tersebut dari dari data Pemda KLU yang menyebut 13,4 persen.

Sekda KLU Anding Duwi Cahyadi mengatakan, kondisi ini menjadi ironi sekaligus tantangan besar bagi pemerintah daerah.

"Data ini tentu bukan sesuatu yang membanggakan. Tetapi kita harus jadikan dasar untuk intervensi lebih masif," katanya kemarin (28/8).

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan dua desa di Lombok Utara sebagai desa binaan stunting.

Keduanya adalah Desa Senaru di Kecamatan Bayan dan Desa Malaka, Kecamatan Pemenang.

Namun yang menjadi keprihatinan, kedua desa tersebut justru merupakan kawasan pariwisata.

Menurutnya, kedua desa itu seharusnya masyarakatnya kaya, sejahtera dan sehat. Tapi faktanya, stunting di situ malah tinggi. "Ini berbanding terbalik dengan harapan,” ujarnya.

Menurut Anding, faktor utama yang masih memicu tingginya stunting adalah persoalan kemiskinan dan pola hidup sehat yang belum optimal. Inilah yang menyebabkan stunting masih tinggi.

.Meski begitu, dia optimis, dalam beberapela tahun ke depan, pemerintah akan mampu menekan kondisi gagal tumbuh pada anak ini.

"Kami yakin dua-tiga tahun ke depan bisa menekan angka ini, asalkan semua pihak ikut bergerak,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan KLU, dr. Lalu Bahrudin, mengakui adanya perbedaan antara data SDKI dan catatan Pemda.

Meski demikian, ia menegaskan Pemda tetap mengacu pada data SDKI sebagai pijakan intervensi. “Kita tetap gunakan data SDKI. Perbedaan angka sedang kita sinkronkan,” jelasnya.

Menurutnya, pemerintah kini lebih menekankan pada pencegahan lahirnya kasus baru. Untuk melakukan upaya ini, Pemda berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Kata dia, penurunan stunting memang harus dilakukan bersama-sama.

"Kami terbuka untuk bermitra dengan NGO, pemerhati, dan organisasi. Program posyandu stunting, edukasi, hingga pendampingan gizi terus kita jalankan lewat puskesmas dan Dinkes. Fokusnya adalah perubahan perilaku, terutama pola asuh anak,” terangnya.

Bahrudin menegaskan, tanpa perubahan perilaku masyarakat, angka stunting sulit turun.

“Kita ingin memastikan tidak muncul stunting baru, itu target utamanya,” pungkasnya. (bib)

Editor : Siti Aeny Maryam
#stunting Lombok Utara #stunting naik di klu #Pemda KLU #Lombok Utara