Kebun ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan bibit yang berkualitas bagi masyarakat.
Di antara hamparan hijau di lahan perkebunan itu tampak deretan tanaman dengan batang merambat, daunnya hijau mengilap, menempel pada tiang penyangga.
Itulah kebun bibit vanili pertama dan satu-satunya di Lombok Utara.
Lokasinya ada di Kecamatan Bayan. Yaitu di lahan Kantor UPTD Pertanian.
Kebun bibit itu diproyeksi menjadi pusat harapan bagi petani yang ingin menanam komoditas bernilai tinggi tersebut.
Kebun ini berdiri di atas lahan seluas 8 are, mulai ditanami sekitar tahun 2023 dengan 200-an indukan vanili.
Tanaman yang merambat di tiang-tiang kayu itu seperti simbol semangat baru.
Belum berbuah, tetapi sudah memberi harapan bagi petani Lombok Utara, bagi daerah, dan bagi masa depan komoditas vanili lokal.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Lombok Utara Tresnahadi, bercerita bahwa kebun bibit ini lahir dari kegelisahan.
Yaitu ketika masyarakat kesulitan mendapatkan bibit vanili berkualitas.
Tresnahadi mengaku, selama ini petani vanili KLU harus beli bibit keluar luar daerah. Baik dari beberapa wilayah di Lombok maupun sampai ke Pulaj Jawa.
"Biayanya mahal dan belum tentu sesuai harapan. Karena itu kami berinisiatif membangun kebun bibit sendiri di sini," ungkapnya.
Di kebun kecil ini, deretan tanaman vanili tumbuh rapi. Setiap batang indukan dirawat dengan pupuk dan perawatan intensif.
DKP3 menugaskan petugas khusus, yaitu tenaga profesional dari staf internal, untuk menjaga agar bibit tetap sehat dan siap berkembang.
Tresnahadi menambahkan, saat ini tanaman belum berbuah. Budidaya vanili memang membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 tahun untuk menghasilkan polong.
"Apalagi ini kita persiapkan jadi bibit," tambahnya.
Bibit-bibit ini nantinya akan dijual kepada kelompok tani yang membutuhkan. Hasil penjualan masuk ke kas daerah sebagai retribusi.
Sehingga selain membantu petani, kebun bibit ini juga bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Selama ini retribusi kita hanya dari pasar hewan dan rumah potong hewan, jadi kita ingin kembangkan sumber baru," jelas Tresnahadi.
DKP3 berencana memperluas ke kecamatan lain jika kondisi memungkinkan.
Dengan begitu, produksi bibit semakin banyak, kualitas terjaga, dan masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada bibit dari luar.
"Tidak hanya di Bayan, tapi kita ingin ada di masing-masing kecamatan," imbuhnya.
Editor : Kimda Farida